SEJARAH HARI HAK ASASI BINATANG INTERNASIONAL

Hari Hak Asasi Binatang Internasional diperingati setiap tanggal 15 Oktober. Ide mengampanyekan hak asasi terhadap binatang ini terinspirasi dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pada 1948. Deklarasi tersebut memuat komitmen untuk menjamin hak-hak dasar yang tidak dapat direnggut dari manusia. Beberapa hak yang dimaksud yakni terlahir bebas dan mendapat perlakuan sama, hak untuk hidup, hak tanpa perbudakan, dan bebas dari penyiksaan serta perlakuan yang merendahkan.

Melansir inadis.org, istilah hak asasi binatang sendiri mulai populer sejak 1964 hingga awal 1970-an. Kala itu, objektifikasi binatang sudah dianggap keterlaluan. Hewan-hewan sirkus diperlakukan layaknya budak. Kondisi kebun binatang yang buruk juga membuat hidup hewan terancam. Belum lagi kepunahan beberapa jenis hewan di seluruh dunia.

Akhirnya, 30 tahun setelah Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, tepatnya pada 15 Oktober 1978, dikeluarkanlah Deklarasi Universal Terhadap Hak Asasi Binatang di kantor pusat UNESCO.

 

Isi dari deklarasi tersebut di antaranya:

Manusia tidak memiliki hak untuk memusnahkan atau mengeksploitasi hewan secara tidak manusiawi. Merupakan tugas manusia untuk menggunakan pengetahuan yang dimilikinya untuk kesejahteraan hewan. Tidak ada binatang yang diperlakukan dengan buruk atau menjadi sasaran tindakan kejam. Jika binatang harus dibunuh, hal tersebut harus dilakukan dengan segera dan tanpa menimbulkan penderitaan pada binatang.

Semua binatang liar berhak atas kebebasan di lingkungan alaminya, baik darat, udara, atau air, dan harus dibiarkan berkembang biak. Semua binatang pekerja berhak atas batasan waktu dan intensitas kerja yang wajar, memperoleh makanan, serta istirahat.

Di Indonesia, hak asasi hewan diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 302 dan Undang-undang Nomor 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Dalam KUHP Pasal 302, dijelaskan bahwa pelaku penganiayaan ringan terhadap hewan dapat dipidana penjara paling lama tiga bulan. Yang termasuk penganiayaan ringan adalah melukai, menyakiti, merugikan kesehatan tanpa alasan yang jelas, serta sengaja tidak memberi makan hewan peliharaan.

Sedangkan jika penganiayaan mengakibatkan luka berat, yang dicirikan sakit lebih dari seminggu, cacat, menderita luka-luka berat, atau mati, maka pelaku dapat dipidana penjara paling lama sembilan bulan.

Dikutip dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Buleleng, perlindungan terhadap hak asasi hewan tidak hanya memberi manfaat bagi hewan, tetapi juga bagi manusia yang hidup dalam satu ekosistem. Sebab, penularan penyakit dari hewan atau zoonosis terjadi saat hewan stres atau terluka. Hewan yang stres dan terluka bisa jadi mencerminkan adanya kelalaian dalam pemenuhan haknya.

 

Disadur dari : https://kumparan.com/berita-hari-ini/sejarah-hari-hak-asasi-binatang-internasional-15-oktober-1uOUAKaNxDV/full

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 − one =