PERTANIAN JABAR BUTUH EKSTENSIFIKASI AGAR BERNAFAS PANJANG

Bandung – Sektor pertanian belum tentu kuat menopang pertumbuhan ekonomi Jawa Barat di kuartal III dan IV 2020 meski menjadi salah satu sektor yang mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Barat triwulan II-2020 (y-on-y), lapangan usaha Informasi dan Komunikasi memiliki sumber pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 1,74 %, diikuti Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 0,62 %; Jasa Pendidikan sebesar 0,19 % dan Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang sebesar 0,01 %.

Ketua Pokja Ketahanan Pangan Satgas Pemulihan Ekonomi Jawa Barat, Sonson Garsoni, mengatakan, meski sektor pertanian mengalami peningkatan saat pandemi, tetapi daya serap pasar menurun. Dia mengakui saat semua sektor terpukul pandemi, pertanian justru mengalami peningkatan sebesar 7,64% secara year on year. Namun, hal ini ini dikhawatirkan akan menurunkan kemampuan pelaku usaha di musim tanam selanjutnya. Maka menurutnya pemberian kredit murah, akses pemasaran, dan bantuan program usaha mesti dilakukan. Salah satu program yang ditawarkan Pokja Ketahanan Pangan adalah ekstensifikasi.

“Tidak perlu di areal tertentu karena bisa dilakukan ekstensifikasi di kawasan hutan, perkebunan, tanaman sela, lahan tidur, lahan perkotaan, dan pertanian pekarangan. Tapi tentu saja perlu dukungan dana untuk itu,” kata Sonson di Bandung, Minggu (24/8/2020).

Menurut Sonson, ekstensifikasi perlu dilakukan secara masif karena konversi lahan juga terjadi secara masif. Konversi lahan pertanian di Jabar selama 10 tahun terakhir mencapai 36.389 hektare sehingga produksi pertanian Jabar pun menurun. Padahal, kontribusi sektor pertanian Jabar pada nasional mencapai 60 persen.

Penurunan juga terjadi di sektor peternakan. Peternakan Jabar berkontribusi 40 persen dengan nilai Rp240 triliun. Dari jumlah itu, 10 persennya adalah peternakan rakyat atau setara Rp24 triliun. Saat pandemi, hampir setengah peternakan rakyat menghentikan produksi, dan setengahnya lagi berhenti. Sedangkan PMDN dan PMA merumahkan karyawannya sebanyak 30-50%.

“Untuk menyelamatkan ketahanan pangan masyarakat, harus segera diantisipasi krisis supply dengan penyediaan kredit atau bantuan likuiditas produksi usaha, akses pemasaran hasil pertanian, serta bantuan program bagi dunia usaha di bidang pertanian, perkebunan, dan peternakan,” katanya.

 

Sumber : https://bandung.bisnis.com/read/20200824/550/1282275/pertanian-jabar-butuh-ekstensifikasi-agar-bernapas-panjang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twenty + twenty =