FENOMENA BULAN MEREDUP, BERTEPATAN PENENTUAN HILAL RAMADHAN

Peneliti senior di Planetarium Jakarta, Widya Sawitar mengatakan pihaknya akan melakukan pengamatan hilal  untuk menentukan awal bulan puasa Ramadan 1441 H ini secara tertutup di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara imbas kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Kegiatan  itu bersifat tertutup karena pihak Ancol tengah menutup kawasan mereka, berdasarkan kebijakan demi menekan pandemi virus corona SARS-Cov-2 (Covid-19).

“Karena kondisi sekarang, sifatnya tertutup dan kawasan TIJ Ancol juga tutup. Petugas juga dibatasi,” kata Widya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (22/4).

Pelaksanaan hilal ini bersamaan dengan fenomena bulan meredup yang sebenarnya adalah fase bulan baru. Fase ini berlawanan dengan purnama ketika bulan bersinar bulat dan terang.

Menurut Kepala Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin istilah bulan meredup tidak ditemukan dalam astronomi.

“Dalam astronomi tidak dikenal istilah bukan meredup. Besok (hari ini) adalah saat pergantian bulan dalem kalender lunar atau qamariyah. Tanggal 23 besok adalah saat rukyat hilal (pengamatan bulan sabit pertama) untuk penentuan Ramadhan. Bulan dalam bentuk sabit yang sangat tipis. Sesungguhnya sangat sulit untuk diamati,” tuturnya via pesan teks saat dihubungi terpisah.

Proses pengamatan hilal Ramadan

Lebih lanjut, pengamatan hilal yang akan dilakukan Planetarium Jakarta, didasarkan pada posisi Bulan yang telah melewati tahap konjungsi atau ijtimak.

Pengamatan akan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek astronomis (hisab), pelaksanaan rukyat (aktivitas mengamati visibilitas hilal).

Berdasarkan perhitungan, Matahari akan terbenam apabila dilihat dari kawasan Taman Impian Jaya Ancol pada pukul 17:48 WIB. Artinya, kondisi fase Bulan yang rencananya akan diobservasi saat Matahari terbenam sudah melawati masa ijtimak yang terjadi pukul 09:26 WIB.

Disebut sebagai Anak Bulan yang usianya 8 jam 22 menit 3 detik. Jadi, dari analisis perhitungan astronomis bahwa Anak Bulan kemungkinan dapat diobservasi,” kata Widya.

“Selain itu, Anak Bulan atau hilal akan terbenam pukul 18:06:47,97 WIB. Jadi ada kesempatan selama 17 menit 52,69 detik untuk mengamati hilal sebelum akhirnya terbenam di ufuk dihitung sejak terbenamnya Matahari,” lanjut dia.

Berdasarkan hasil murni perhitungan (hisab) itu hilal sudah wujud atau berharga positif pada hari hisab dan hari rukyat serta hari ijtimak. Jadi kecenderungannya bahwa bulan Syaban 1441 H tidak akan digenapkan menjadi 30 hari, demikian pula tanggal 1 Ramadan 1441 H akan jatuh pada hari Jumat tanggal 24 April 2020.

Selain hasil murni perhitungan, penentuan hari pertama puasa juga dihitung dari hasil observasi (rukyat) 82 titik lokasi pengamatan yang dilakukan pada hari rukyat, yaitu saat Matahari terbenam pada Kamis (23/4), semisal ada kesaksian maka kecenderungannya akan diterima karena berbasis kriteria praktis.

Tunggu keputusan Kemenag

Meski begitu, Widya mengatakan belum tentu satu tempat dapat melihat hilal. Sebab bisa saja di tempat lain, hilal tidak bisa diamati. Tim Planetarium Jakarta pun pada hakikatnya tetap menunggu keputusan dari Kementerian Agama.

“Intinya tetap menunggu hasil sidang isbat Kementerian Agama RI,” tegas Widya.

Perbedaan penglihatan ini terkait dengan kombinasi posisi Bulan, Bumi, dan Matahari, serta posisi sang pengamat.

“Misal kita di Jakarta dan di Medan, tentu akan melihat perbedaannya. Apalagi antara pengamat di Indonesia dengan di Timur Tengah. Sekaligus dapat menjelaskan mengapa apabila terjadi gerhana, maka tidak semua wilayah dapat menyaksikannya,” lanjut Widya seperti tertulis dalam situs Planetarium Jakarta.

Dalam kasus hilal, semakin ke barat kemungkinan melihat hilal makin besar. Sehingga kemungkinan terdapat perbedaan penentuan hilal antara Indonesia dengan kawasan negara Timur Tengah yang terletak di barat RI. Sehingga, ketika di Indonesia hilal belum terlihat sehingga bulan Syakban dibulatkan jadi 30 hari.

Lain cerita dengan Timur Tengah. Kawasan yang posisinya lebih ke arah barat dari Indonesia ini kemungkinan besar sudah dapat melihat hilal sehingga mereka membulatkan bulan Syakban sebelum Ramadan menjadi 29 hari saja dan keesokan harinya sudah tanggal 1 Ramadan.

“Sesuatu yang sangat wajar karena makin ke barat seiring dengan bertambahnya usia Bulan, juga fase, iluminasi, dan tinggi dari garis ufuk yang niscaya semakin besar dan semakin relatif mudah diamati,” tambah Widya.

Kementerian Agama sendiri akan menggelar Sidang Isbat untuk menentukan awal bulan Ramadan 1441 H setelah ibadah Salat Maghrib pada Kamis (22/4) esok. Dirjen Bimas Islam Kemenag Kamaruddin Amin menjelaskan sidang Isbat nantinya akan memanfaatkan sarana sambungan jarak jauh atau teleconference.

“Seiring kebijakan physical distancing dan sesuai protokol kesehatan, kita menghindari ada kerumunan. Sidang isbat akan memanfaatkan teknologi teleconference. sehingga peserta dan media tidak perlu hadir di Kementerian Agama,” kata Kamaruddin dalam keterangan tertulis.

Kamaruddin menjelaskan Sidang Isbat akan dibagi dalam tiga sesi. Sesi pertama, diawali dengan paparan posisi hilal awal Ramadan 1441 H oleh anggota Tim Falakiyah Kementerian Agama. Paparan ini akan disiarkan secara live streaming melalui website dan medsos Kemenag.

Diketahui, Kemenag sendiri sudah menetapkan pos pemantauan hilal (rukyatul hilal) yang tersebar di 82 titik pemantauan di 34 Provinsi di Indonesia. (din)

Dikutip dari : https://m.cnnindonesia.com/teknologi/20200422151548-199-496139/fenomena-bulan-meredup-bertepatan-penentuan-hilal-ramadan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nineteen − 13 =