Bobotoh Geulis Bikin Pemandangan Stadion Jadi ‘Cenghar’

Loyalitas tanpa batas, kira-kira seperti itulah hal yang pantas untuk menggambarkan dukungan yang diberikan para bobotoh kepada tim sepak bola kesayangannya, Persib Bandung. Dimanapun atau kapanpun Persib bertanding disitu pulalah pasti ada bobotoh yang turut menyertai tim yang berjuluk Maung Bandung ini.

Bobotoh tidak mengenal usia, jenis kelamin, maupun golongan semua tumpah ruah di stadion untuk mendukung Persib. Sepakbola kini tidak hanya milik kaum adam. Buktinya semakin banyak saja bobotoh wanita yang datang untuk mensuport langsung Persib ke lapangan.

Mereka datang dengan segala atribut biru khas Persib. Jersey, syal, atau topi, namun bedanya mereka tampil lebih ciamik dengan dandanan yang kece dan ciamik. Contohnya saja salah satu bobotoh wanita bernama Nur Indah Hasnah. Bobotoh wanita dari Cirebon datang ke stadion dengan dandanan lengkap, seperti memakai lensa kontak, eyeliner, blush on, dan gincu merah. Full make-up saat di lapangan menurutnya tidak masalah.

“Iya dong, dandan gini memang niat. Kan ini acara besar jadi persiapannya juga harus niat,” ujarnya saat ditemui di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Minggu (7/5/2017).

Perjalanan kurang lebih 2-3 jam untuk sampai di Bandung tidak menjadi suatu hambatan baginya. Yang terpenting adalah dirinya bisa menonton dengan langsung tim kesayangannya.

Hasnah bukanlah satu-satunya bobotoh wanita bergincu yang datang ke sana. Ada juga Mela Savitri, siswi kelas 3 di salah satu SMA di Bandung ini tidak pernah melewatkan nonton pertandingan di Stadion. Tampil cantik? Tentu saja wajib hukumnya untuk dirinya !

Malah Mela mengaku, dirinya sengaja berdandan cantik, siapa tahu bisa bertemu dengan pemain Persib idolanya, yaitu Kim Jeffrey Kurniawan.

“Siapa tahu ketemu Kim, jadi sengaja dandan. Kalau foto bareng kan jangan sampai kitanya terlihat pucat,” ucap Mela yang kala itu memakai jersey bertuliskan nama dirinya lengkap juga dengan lipstik merah menyala.

Bobotoh-bobotoh cantik bergincu ini tidak hanya satu atau dua, tapi jumlahnya memang banyak akhir-akhir ini. Hal ini membuktikan bahwa sepakbola adalah olahraga yang universal, bisa dinikmati oleh segala kalangan dan gender.

Fenomena bobotoh bergincu juga nyatanya menjadi ajang ‘cuci mata’ bagi para bobotoh lelaki. Bosan mengantri tiket sebelum masuk Stadion, para bobotoh bergincu ini menjadi hiburan tersendiri bagi bobotoh lelaki.

Heru Aditya, salah seorang bobotoh yang merangkap sebagai fotografer. Dirinya sering sekali menangkap momen bobotoh-bobotoh bergincu yang bersliweran di stadion. Modusnya sih untuk kepentingan pekerjaan, padahal aslinya untuk cuci mata sambil menunggu pertandingan di mulai.

“Wah hiburan banget ! Lihat neng-neng geulis pake lipenbereum eceuy. Yang kaya-kaya gini nih yang bikin tambah semangat ke stadion,” papar Heru.

Heru sendiri tidak memungkiri bahwa dirinya pernah berhasilngemodus salah satu bobotoh cantik bergincu itu. Tapi dengan catatan, dirinya mengajak kenalan dengan cara yang sopan.

“Enggak langsung nyosor lah. Kenalan dulu, ajak ngobrol dulu, kalau nyambung baru bisa lanjut,” katanya.

Jangan salah, bobotoh bergincu ini bukan hanya dari kalangan neng-neng geulis yang masih muda saja. Yang senior juga ternyata ada ! Namanya Afifah, dari daerah Cilampeni, Kopo. Afifah juga tidak ingin kalah gaya dengan para bobotoh wanita muda. Ibu Afifah datang dengan gaya kekinian, dengan memakai jersey, sepatu sneakers, dan tas backpack.

Afifah mengaku jadi fans setia Persib berawal dari suaminya. “Dulu pas main di Jalak Harupat, saya juga suami dan anak-anak selalu nonton, kan lumayan dekat dari rumah. Ini baru pertama kali saya nonton di GBLA. Makanya enggak ingin kalah dong gayanya dengan anak-anak muda,” tuturnya dengan semangat.

Di sosial media juga sudah banyak rupaya akun yang memajang foto-foto bobotoh wanita, seperti akun instagram @maunggeulis dan @kerudungbiru. Para wanita ini bangga datang langsung ke lapangan untuk mendukung tim kesayangannya. Bagi mereka, mendukung Persib bukanlah sebuah paksaan, tapi sebagai wujud dorongan murni dalam hati tanpa berharap ada sensasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eleven + 12 =