UKT NAIK, BIKIN MAHASISWA PANIK

Oleh: Yuliawati

Kenaikan uang kuliah tunggal (UKT) menjadi topik yang ramai diperbincangkan. Banyak pihak yang tidak setuju dengan kenaikan UKT terurama para mahasiswa. Kenaikan UKT menjadi kabar buruk bagi para mahasiswa sehingga menimbulkan gelombang aksi unjuk rasa sebagai bentuk protes dan penolakan atas kebijakan tersebut.

Aksi unjuk rasa terjadi diberbagai perguruan tinggi, seperti di USU, UNRI dan UNSOED. Mahasiswa UNSOED menggelar unjuk rasa di depan gedung rektorat, mereka tak terima uang kuliah dinaikan secara drastis sampai mencapai lima kali lipat. _(cnnindonesia, 09-05-2024)_ Mahasiswa UGM juga melakukan aksi unjuk rasa bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional dan mungkin aksi ini akan diikuti oleh mahasiswa lainnya di sejumlah perguruan tinggi.

*Apa Kata KEMENDIKBUD?*
Adanya gelombang aksi protes dari para mahasiswa mendapat respon dari Sekertaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (KEMENRISTEK) yakni ibu Tjitjik Sri Tjahjandarie. Beliau menyebutkan Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) belum bisa menutup semua kebutuhan operasional kampus karena perguruan tinggi merupakan pendidikan tersier yang bersifat pilihan dan tidak masuk kedalam wajib belajar 12 tahun (SD, SMP, SMA\sederajat), sehingga perguruan tinggi di Indonesia belum bisa di gratiskan sepenuhnya. Pemerintah lebih fokus dan memprioritaskan pendanaan untuk wajib belajar 12 tahun. Konsekuensi dari kebijakan tersebut adalah mahasiswa harus ikut membayar biaya kuliah. Beliau juga membantah adanya kenaikan UKT, yang ada hanyalah penambahan kelompok atau golongan UKT. _(cnbc, 18-05-2024)_

*Kapitalisasi Pendidikan*
Perguruan tinggi negeri dahulu berbentuk Badan Hukum Milik Negara (BHMN) dan Badan Hukum Pendidikan (BHP), namun kini disebut Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH). Perubahan tersebut membawa dampak pada hak pengelolaan anggaran. Dahulu PTN mendapat anggaran pendidikan secara penuh dari pemerintah. Pada saat ini PTN harus mencari biaya sendiri untuk operasional kampus karena dana bantuan yang diberikan pemerintah tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan pendidikan. Mahasiswa diharuskan membayar UKT untuk menutupi kekurangan dana operasional kampus dan melakukan bisnis lainnya untuk menambah pemasukan seperti membangun kantin atau restoran, membangun SPBU, menyediakan jasa penyewaan gedung dan lain-lain.

Adanya program WCU (World Clas University) yang membutuhkan biaya yang mahal membuat perguruan tinggi semakin gencar mencari dana dan tak segan untuk mengkapitalisasi dunia pendidikan, termasuk pula di dalamnya konsep triple helix (pemerintah, perguruan tinggi dan perusahaan) membuat tujuan pendidikan bukan lagi untuk mengembangkan keilmuan tapi hanya untuk memenuhi tuntutan dunia industri.

*Bagaimana Islam Memandang Fenomena Seperti ini?*
Dalam sistem demokrasi rakyatlah yang harus membayar biaya pendidikan baik secara langsung seperti membayar UKT atau tidak langsung yakni dengan membayar pajak barang dan jasa. Sedangkan dalam sistem Islam biaya pendidikan ditanggung sepenuhnya oleh negara karena pendidikan merupakan hak dasar seluruh rakyat. Selain itu dalam Islam kuliah sama dengan mencari ilmu, bukan kuliah sama dengan mencari kerja.

Islam memiliki konsep keuangan sendiri, kas di baitul mal yang diperoleh dari pembayaran jizyah, kharaj dan pengelolaan SDA akan menjadi sumber dana untuk membiayai seluruh operasional pendidikan. Dengan hal ini rakyat bisa mendapatkan pendukung secara gratis.

Jika baitul mal tidak mampu menanggung seluruh biaya pendidikan maka negara akan mendorong para aghniya untuk ikut berkontribusi dalam membangun pendidikan yang terjangkau dan berkualitas. Maka rakyat akan tetap mendapat pendidikan terbaik dan merata di seluruh penjuru negara.

Bagikan Postingan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *