PENISTAAN AGAMA, SUBUR DALAM SISTEM SEKULER

Oleh: Ishlah Nurhidayah

Penistaan agama Islam semakin marak di tanah air. Saat ini sedang ramai beredar video seorang pria yang menginjak Al-Quran saat bersumpah di hadapan istrinya.

Pria tersebut membantah perselingkuhan yang ditudingkan istrinya lalu kemudian melakukan sumpah dengan cara menginjak Al-Quran agar istrinya percaya.
“Awalnya kan suamiku selingkuh, dalam artian inisiatif sendiri mau membuktikan kalau dia nggak selingkuh dengan cara bersumpah di atas Al-Qur’an” ucap istrinya. Jum’at (17/05/2024)

Setelah ditelusuri, pria yang ada dalam video adalah pejabat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang bertugas sebagai Kepala Otoritas Bandar Udara Wilayah X Merauke. Kabar pelaku masih jadi tersangka dan kasus belum di tindak lanjuti. Pelaku seolah kebal akan hukum. [tribunnews.com]

Ini bukanlah kasus penistaan terhadap agama Islam untuk pertama kalinya. Deretan penistaan terhadap agama Islam terus terjadi dan terus berulang. Hal ini menunjukan lemahnya penegakan hukum terhadap para pelaku. Seolah-olah mereka kebal akan hukum di negara ini.

Juga lemahnya perlindungan negara terhadap kemuliaan Islam, terutama Al Qur’an. Padahal Al-Qur’an adalah kitab suci kaum muslimin yang dijaga kemurniannya oleh Allah SWT langsung. Membacanya dapat berbuah pahala, Mempelajarinya, mentadaburinya, serta mengamalkan nya serta membela Al-Qur’an dari segala bentuk penyimpangan bahkan penistaan adalah sebuah kewajiban umat Islam.

Lantas bukankah seharusnya negara bertanggung jawab atas penistaan terhadap Al-qur’an ini?

Paham batil yang mengajarkan pemisahan agama dan kehidupan ini menyebabkan banyaknya kaum muslim yang tidak peduli dengan agamanya. Akibat sekulerisme ibadah di pandang urusan belaka yang menyebabkan lemahnya pembinaan, pembimbingan serta perlindungan terhadap keimanan umat yang semestinya di lakukan oleh negara.

Penerapan sekuler ini menjadikan agama sebagai urusan individu yang diterapkan pula dalam ruang privat dan negara tidak berhak ikut campur.

Sementara itu kebebasan individu dijungjung sebagai hak paling tinggi dengan dalih HAM.
Sehingga pelecehan dan penistaaan agama dianggap biasa saja. Akibatnya seorang penista agama bebas berekspresi tanpa adanya sanksi yang berarti yang membuat efek jera bagi pelaku.

Demikian pula kasus penistaan agama Islam semakin marak terjadi ini karena lemahnya penegakan hukum terhadap para pelaku. Bahkan sejumlah nama yang terkenal sebagai Buzzer justru masih terus menebarkan fitnah dan penistaan terhadap agama islam.

Sebetulnya pangkal dari permasalahan umat saat ini adalah ketidak diterapkannya syariat Islam secara kaffah (menyeluruh). Karna hanya Islam lah satu satunya yang bisa menuntaskan semua persoalan umat. Penerapan islam secara kaffah adalah bentuk ketakwaan umat islam.

Syariat Islam yang diterapkan oleh khilafah akan mampu melindungi dan menyelesaikan permasalahan umat. Serta mampu menjaga akidah dan ibadah umat.

Sistem Islam tidak akan membiarkan umat muslim meninggalkan ibadah mereka seperti shalat 5 waktu dan ada umat muslim yang buta huruf Al-Qur’an. Sistem Islam akan menjadi kekuatan besar yang melindungi agama Allah.

Islam didatangkan sebagai solusi bagi semua persoalan umat. Dengan aturan Islam yang mampu memberikan keadilan yang hakiki. Aturan-aturan yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah semua ditujukan untuk melindungi hak-hak individu, memberikan sanksi tegas atas setiap pelanggaran, mengajarkan akhlak mulia, serta mendorong perdamaian dan keadilan dalam masyarakat.

Jika diterapkannya Islam secara kaffah, penistaan agama tidak mungkin terjadi. Jika terjadi kemungkinannya sangatlah kecil sebab negara merupakan pilar penjaga kemuliaan islam.

Pelindung agama dan juga umat islam. Dengan sistem yang ada khilafah akan mengedukasi umat agar senantiasa tepat bersikap terhadap agamanya.

Oleh karena itu penistaan agama dan umat Islam hanya bisa dihapuskan oleh sebuah negara yang menerapkan islam secara kaffah.

Walhasil, jika yang diharapkan adalah suasana masyarakat yang aman, damai, dan sejahtera adalah penerapan Islam kaffah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Wallahu a’lam bi Ash-shawaab

Bagikan Postingan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *