KASUS KDRT BERULANG? ISLAM SOLUSINYA OLEH: PUTRI EFHIRA FARHATUNNISA (PEGIAT LITERASI DI MAJALENGKA)

Kasus KDRT Berulang? Islam Solusinya
Oleh: Putri Efhira Farhatunnisa (Pegiat Literasi di Majalengka)

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) semakin marak terjadi. Banyak korbannya merupakan kaum wanita. Sosok yang seharusnya dilindungi, justru disakiti bahkan oleh orang terdekatnya. Seperti kasus seorang mantan pesepakbola Indonesia yang ternyata telah melakukan KDRT selama bertahun-tahun pada istrinya, hingga salah satu anaknya pun menjadi korban.

Kasus lainnya dilakukan oleh mantan perwira Brimob yang kini statusnya sudah PTDH (Pemberhentian Tidak Dengan Hormat) dari kesatuannya. Pelaku berinisial MRF ini menganiaya istrinya RFB sejak tahun 2020 dan puncaknya pada 3 Juli 2023. Kasus ini telah dilaporkan ke Polres Metro Depok melalui kuasa hukum korban dan pelaku sudah ditahan sejak 14 Desember 2023.

Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Depok M. Arief Ubaidillah, pada Kamis, 21 Maret 2024 mengatakan bahwa korban memiliki beberapa luka memar di wajah, dada, dan punggung, serta lecet pada tangan dan kepala. Selain itu karena penganiayaan ini, korban juga sempat mengalami keguguran saat janinnya berusia 4 bulan. KDRT ini tentu meninggalkan luka fisik dan psikologis pada korban (metropolitan.kompas.com 22/3/2024).

KDRT makin marak, padahal yang terlihat pun hanya yang dilaporkan. Kasus ini sudah seperti gunung es di mana masih banyak kasus tak terungkap karena berbagai alasan, apalagi biasanya korban merupakan perempuan makhluk perasa yang menganggap bahwa itu adalah aib dan tidak perlu diketahui orang lain. Bisa juga karena ada ancaman dari pelaku atau alasan lainnya.

KDRT Merebak Apakah Penyebabnya?

Namun adakah penyebab pasti dari KDRT yang semakin menjamur ini? Berbagai kerusakan termasuk KDRT bermula dari terjadinya westernisasi. Saat gaya hidup barat dianggap keren dan modern, banyak orang yang mulai mengikutinya. Dengan kehidupan hedonis, sekuler, dan liberal ala Barat, tak menutup kemungkinan jika cara pandang kita terhadap kehidupan pun mengikuti cara pandang mereka.

Sekulerisme atau pemisahan agama dari kehidupan akan menjadi virus pertama yang menjangkiti masyarakat. Dengan anggapan bahwa manusia berhak mengatur hidupnya sendiri dan agama tak perlu ikut campur. Hal ini tentu sangat berbahaya karena dari pemikiran ini lah masalah hidup akan berdatangan. Kenapa? Karena tidak sesuai fitrah.

Yang mengetahui kebutuhan kita hanyalah Sang Pencipta yaitu Allah SWT. Maka ketika kita menggunakan jalan hidup yang tidak diatur oleh Allah, maka kekacauan lah yang terjadi. Karena keterbatasannya, manusia hanya bisa menerka dan berpikir sesuai kemampuannya atas apa yang akan diambil. Namun dia tidak mengetahui efek dari apa yang akan diambilnya tersebut.

Apa yang dipikir menyenangkan dan dianggap baik akan cenderung untuk dilakukan apalagi jika dinilai menguntungkan. Mulailah kapitalisme masuk pada dirinya, ia hanya melakukan sesuatu dengan asas manfaat dan seringkali tidak memikirkan yang lain. Tidak adanya ketakwaan pada Sang Pencipta membuat seseorang melakukan sesuatu sesuka hatinya.

Dampaknya fungsi perlindungan dalam keluarga tak terwujud, sibuk memperturutkan hawa nafsu yang kian mengikis kasih sayang hingga hati nurani. Banyak terjadi anggota keluarga yang menyakiti keluarganya sendiri bahkan tak segan untuk membunuh. Maka sekulerisme ini sangat berbahaya, bisa menyebabkan seseorang kehilangan kontrol diri karena dirinya tidak terkoneksi dengan Sang Pencipta.

Adapun dari sisi negara, sistem sekarang yang berasal dari Barat juga mengizinkan ide-ide rusak seperti sekulerisme, kapitalisme, hedonisme, dan liberalisme berada di tengah masyarakat. Selain itu seluruh sistem pengaturan pemerintahan negeri ini juga menggunakan sistem kapitalisme yang sudah pasti tidak benar-benar mengurusi urusan umat.

Maka lahirlah berbagai macam persoalan. Di satu sisi individu berhadapan dengan kondisi internal dan eksternal yang meniscayakan segala perbuatan kriminal. Di sisi lain negara abai terhadap kondisi akidah masyarakatnya, bahkan kebijakan pun seringkali menyengsarakan rakyat. Sudahlah individu kehilangan kontrol diri, kondisi juga sangat memungkinkan untuk berbuat jahat.

Lemahnya Sistem Sanksi

Banyaknya kasus KDRT juga merupakan bukti mandulnya UU P-KDRT yang sudah disahkan selama 20 tahun. Sudah selama itu diterapkan namun kasusnya masih terus bermunculan bahkan semakin banyak. Itu artinya ada yang salah dengan sistem sanksi saat ini. Sanksi yang tidak tegas dan tidak tepat tidak akan pernah menjadi pencegah kejahatan atau memberi efek jera pada pelaku.

Oleh karena itu, sanksi haruslah tegas dan tepat agar dapat mencegah seseorang dari berbuat kriminal hingga memberi efek jera bagi pelaku, sehingga kejahatan pun dapat diminimalisir. Apa yang terjadi saat ini merupakan bukti lemahnya sistem buatan manusia. Maka memang sudah sepatutnya kita menyerahkan urusan kehidupan pada Allah Sang Pemilik Semesta.

Islam Solusinya

Islam merupakan agama sempurna yang diturunkan Allah SWT untuk menyelesaikan berbagai macam persoalan kehidupan. Islam adalah ‘way of life’ bukan sekadar agama ritual. Maka apapun masalahnya, dari dulu hingga nanti, Islam bisa menjadi solusi. Islam memandang penting adanya jaminan/benteng perlindungan yang strategis dari sebuah institusi kecil bernama keluarga. Sudah seharusnya anggota keluarga itu saling menyayangi dan melindungi, apalagi sosok ayah yang seringkali disebut pahlawan keluarga.

Islam mempedulikan setiap individu masyarakatnya. Membentuk mereka menjadi seseorang yang memiliki pola pikir dan pola sikap Islam adalah kewajiban Islam itu sendiri.

Karakter tersebut akan dibentuk oleh sistem pendidikan Islam, di mana akidah, ketakwaan, dan ketaatan kepada Allah akan terus dipupuk. Ide-ide merusak produk Barat tidak akan diizinkan untuk menjangkiti masyarakat dengan berbagai upaya. Salah satunya adalah dengan pengontrolan media ataupun platform informasi lainnya.
Sehingga kemurnian Islam dan akidah masyarakatnya akan terjaga.

Dalam Islam sistem sanksi yang diterapkan pun tegas dan memberi efek jera, ia memiliki fungsi zawajir (pencegahan) dan jawabir (penebus). Zawajir disini karena ketegasan sanksi tersebut sehingga bisa mencegah seseorang dari perbuatan kriminal. Dan jawabir merupakan penebus dosa, jadi ketika seseorang sudah dihukum di dunia, maka di akhirat ia terbebas dari hukuman.

Dengan begitu mekanisme Islam bisa menciptakan kondisi yang kondusif dan meminimalisir terjadinya kejahatan. Keamanan pun akan terwujud, baik dari skala kecil seperti keluarga hingga skala besarnya yaitu negara. Itulah yang akan terjadi jika kita menerapkan aturan yang berasal dari Sang Pencipta, karena sesuai dengan fitrah manusia.

Wallahua’lam bishawab.

Bagikan Postingan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *