KOMERSIALISASI LAYANAN PUBLIK DI NEGARA KAPITALIS

Oleh: Resa Ristia Nuraidah

Sebanyak 13 ruas jalan tol rencananya akan mengalami kenaikan tarif pada Kuartal I-2024. Itu termasuk ruas-ruas tol yang jadwal penyesuaian tarifnya pada tahun 2023 namun masih dalam proses, sehingga tetap akan disesuaikan pada tahun 2024.

Rencana ini merupakan bagian dari aturan kenaikan berkala jalan tol sesuai dengan UU 2/2022 tentang Perubahan Kedua Atas UU 38/2004 tentang Jalan. Pasal 48 ayat 3 menjelaskan, kenaikan tarif akan dilakukan setiap dua tahun sekali berdasarkan laju inflasi dan evaluasi pemenuhan standar pelayanan minimum (SPM). [Kompas.com]

Adanya kenaikan tarif jalan tol menunjukkan adanya komersialisasi jalan tol. Kenaikan secara berkala dengan alasan penyesuaian menunjukkan bagaimana hubungan rakyat dan penguasa. Tarif jalan tol yang tidak murah juga menunjukkan bahwa keberadaan jalan tol saat ini menjadi ladang bisnis bagi para pemilik modal. Hal ini adalah potret buruk sistem yang menjadi landasan kehidupan.

Kenaikan tarif jalan tol juga akan mengakibatkan kenaikan bahan pokok karena turut naiknya biaya operasional saat mendistribusikan barang. Hal ini akan semakin menyengsarakan rakyat.

Beda halnya dengan Islam. Islam memandang Jalan raya adalah bagian dari pelayanan negara dalam memenuhi kebutuhan pokok dan penting. Jalan adalah milik umum, dan negara dilarang untuk mengkomersialisasi kebutuhan rakyat, mulai dari sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, hingga infrastruktur (jalan raya ada di dalamnya). Dalam memenuhi kebutuhan tersebut, negara bertindak sebagai pemelihara bukan pebisnis.

Negara dalam Islam akan menjamin kebutuhan rakyat termasuk dalam bidang transportasi, baik sarana maupun prasarana yang memungkinkan umat dapat beraktivitas dengan nyaman tanpa harus membayar dengan tarif yang tinggi seperti saat ini.

Kesejahteraan rakyat nyatanya hanya terwujud kala Islam diterapkan secara menyeluruh. Itu sudah terbukti selama 13 abad lamanya. Oleh karenanya, masihkah kita berharap pada kapitalisme yang jelas menimbulkan kesengsaraan belaka? Tentu tidak. Maka dari itu, sudah saatnya kita terus berjuang untuk penerapan aturan Islam secara keseluruhan. [Wallāhu a’lam bi Ash-shawāb]

Bagikan Postingan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *