PENDIDIK TERJEBAK DI PUSARA UTANG

Oleh: Ina Agustiani, S.Pd

Ilmu didapat dengan perantara para pendidik, karena dengan lisan mereka generasi ini dapat tercipta dengan baik. Jika ingin pendidikan yang berkualitas, sejahterakanlah dulu gurunya. Itulah sekelumit harapan dan angan-angan akan keberadaan para pendidik yang masih menjadi mimpi, untuk mereka para penyampai ilmu. Hanya mengandalkan rezeki dari Allah, karena gaji tak pernah mencukupi. Keberkahan di majelis ilmu bisa didapatkan dengan berkhidmat kepada gurunya. “Ilmu itu diperoleh dengan belajar, keberkahan itu diperoleh dengan khidmat.”

Sekelumit perjalanan panjang guru menuju kesejahteraan memang menemui jalan berliku, di satu sisi ingin anak didik menjadi manusia berkualitas, tapi hak untuk hidup berkualitas masih dalam perjalanan terkadang jalan di tempat.

Ini berkaitan dengan otoritas jasa keuangan (OJK) berhasil menghentikan operasi sekitar 5.000 pinjaman online (pinjol). OJK Tasikmalaya yang membawahi wilayah kerja Garut , Priangan Timur dan Pangandaran menemukan kalangan guru dan IRT sebagai korban piutang pinjol sampai 42 persen.

Misyar Bonowisanto selaku Plt. Kepala OJK Tasikmalaya berkata banyak guru yang rata-rata kaum terpelajar masih saja terjerumus dalam lingkaran pinjol, sudah begitu ilegal jadi bunganya berlipat ganda. Faktornya adalah minimnya literasi keuangan, pengaruh lingkungan, gaya hidup konsumtif, dan akses pinjam yang mudah tidak ribet, membuatnya jatuh ke jurang dalam. Kita tidak bisa menyalahi ini semua, semata-mata terjadi karena penghasilan mereka yang serba tidak jelas.

Dengan begitu OJK akan terus mengedukasi dan mengimbau agar semua masyarakat tidak terjebak dalam pinjaman online. Agar tidak mudah tergiur dengan pinjaman, dan boleh meminjam asal sesuai dengan kemampuan dan jelas sumber pinjamannya, supaya tidak menyesal di kemudian hari.

Masalah Sang Guru
Lembaga data boleh saja berujar bahwa guru terjebak di pusara utang akibat gaya hidup, minim literasi keuangan. Nyatanya ini akibat negara memberi gaji yang jauh dari kata sejahtera, bahkan gaji buruh lebih besar untuk para honorer. Gaji itu sangat tidak masuk akal, satu bulan hanya kisaran 300-500 ribu, pengorbanan untuk mendidik generasi dihargai sangat kecil.

Makanya tak jarang seorang guru harus banting tulang mencari sampingan. Selesai mengajar ada yang jadi ojol, guru les, keliling jualan barang, dan pekerjaan lainnya untuk menghidupi keluarganya.

Di sisi lain, sarjana pendidikan juga banyak yang belum bekerja. Kementrian Tenaga Kerja mencatat terdapat 12 persen pengangguran dari sarjana dan diploma.alhasil banyak yang belum terserap, jumlah lulusan ini mencapai 1,94 juta jika dilihat dari fokus rekrutmen guru menjadi PNS atau PPPK yang belum terserap.

Belum jika dilihat dari profesi, guru harus menjalani serangkaian program Pendidikan Profesi Guru (PPG), sebagai pengakuan statusnya, ujungnya untuk peningkatan “kesejahteraan” mendapat gaji lebih dari honorer. Sebuah langkah panjang ditengah gaji yang tak sepadan.

Sisi Pengaturan Islam
Kesemrawutan ini menjadikan kapitalisme sebagai biang masalah dari kesejahteraan guru sebagai pendidik. Karena profesi dianggap sebagai ladang bisnis, padahal dalam kaca mata Islam pendidikan ditempatkan sebagai komponen penting membangun sebuah peradaban. Mulai dari kurikulum, infrastruktur sampai pada kesejahteraan guru semua dipikirkan oleh negara sebagai penentu kebijakan.

Konsep negara yang memandang keberkahan ilmu ada dalam strata tinggi kemajuan bangsa, menempatkan pendidik dengan sangat layak dan terjamin kesejahteraannya.

Sejarah Islam mencatat status guru digaji dengan tidak ada perbedaan antara honorer, ASN, PPPK. Di masa Abbasiyyah gaji ulama dan guru dihargai seribu dinar per tahun, jika dikonversi 1 dinar setar 4,25 gram emas dan 1 gram emas seharga Rp900.000, maka 2.000 dinar sama dengan Rp7,65 miliar per tahun setara Rp637.500.000 per bulan. Sangat fantastis.

Sementara untuk para ulama atau guru yang mengajarkan Alquran digaji 2.000 dinar, setara Rp15,3 miliar. Di masa Khalifah Harun ar-Rasyid saja tampak menggaji guru dan ilmuan yang membuat buku akan ditimbang sama dengan emas, atas karya yang dihasilkan. Semua itu sebanding dengan pengorbanan waktu dan tenaga yang dicurahkan untuk keilmuan yang jangkanya akan panjang. Selain menjadi amal jariyyah dihargai pula oleh negara.
Nasihat yang disampaikan oleh Sayyid Ahmad bin Al-Maliki,

ثبات العلم بالمذاكرة وبركته بالخدمة ونفعه برضا الشيخ

“Tetapnya ilmu dengan mengulang-ulang, berkahnya ilmu dengan berkhidmat, dan manfaatnya ilmu dengan rida guru.”

Dari situlah perhatian yang rinci terhadap kehidupan para pendidik adalah modal besar negara menuju kemandirian dan berdaulat penuh. Dengan begitu para guru bisa fokus mengajar tanpa dihantui rasa kelaparan, beban hidup untuk hari esok. Guru bahagia, proses pendidikan terlaksana dengan baik, dan generasi unggul bisa diciptakan.
Wallahu a’lam.

Bagikan Postingan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *