SAATNYA TUNTASKAN MASALAH SAMPAH HINGGA KE AKARNYA

Oleh : Lilis Suryani ( Guru dan Pegiat Literasi)

Sampah masih jadi permasalahan klasik masyarakat modern di era saat ini. Meski berbagai upaya terus dilakukan untuk menanggulangi masalah sampah, namun hingga kini masih juga belum menemui titik terang.

Seperti yang sempat terjadi di Pasar Sehat Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, beberapa waktu yang lalu. Tumpukan sampah menggunung karena terlambat diangkut oleh pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung.

Di wilayah lainnya pun tidak jauh berbeda, permasalahan sampah belum tertangani dengan baik. Padahal, bau yang ditimbulkan akibat tumpukan sampah yang membusuk tentu akan berpengaruh negatif terhadap kesehatan. Apalagi terhadap anak-anak yang rentan terjangkiti penyakit.

Lingkungan pun tentu akan menjadi kotor dan berpotensi menjadi sarang bibit-bibit penyakit yang bisa mengancam kesehatan keluarga hingga masyarakat. Jika menangani sampah saja pemerintah masih keteteran, lalu bagaimana dengan urusan yang lebih krusial lainnya?

Menilik lebih dalam terkait permasalahan sampah,  tentu sangat dipengaruhi oleh gaya hidup atau life style dan pola konsumsi masyarakat itu sendiri. Pola hidup konsumtif menyebabkan masyarakat menyukai belanja yang sekedar memenuhi keinginan atau menjadi koleksisaja. Terlebih didorong dengan
zaman dan manusia semakin menginginkan yang serba instan dan praktis. Hal inilah yang menyebabkan peningkatan jumlah sampah.

Adanya pola hidup konsumtif dari masyarakat sangat dipengaruhi dengan pandangan hidup mereka dan orientasi kehidupan. Masyarakat hari ini, yang hidup dengan penerapan sistem kapitalisme sekuler menjadikan profit dan materi sebagai standar kebahagiaannya. Asas kebebasan menjadi pedoman dalam bertindak atas nama ‘Hak Asasi Manusia’. Ditambah tidak ada aturan kepemilikan dalam aturan sekuler.

Maka menjadi suatu kewajaran di sistem kapitalisme, jika masyarakat selalu menginginkan untuk membeli barang branded dan keluaran terbaru. Walaupun sudah memiliki barang-barang semisal bahkan masih berfungsi dengan baik. Tetapi karena alasan gengsi yang menjadikan masyarakat harus terus mengikuti trend dan tidak puas jika hidup dengan menerapkan konsep wara dan zuhud.

Sebuah kepuasan dan kebanggaan jika masyarakat bisa berpakaian dan bergaya mengikuti tren baru, mengoleksi barang-barang yang sebetulnya bukan kebutuhannya, hingga mengonsumsi berbagai macam makanan karena tak mau ketinggalan trend. Strategi marketing penjajahan kapitalisme telah berhasil menyihir masyarakat melalui food dan fashion untuk menjadikan materi sebagai orientasi kehidupan.

Namun, mereka tak sadar jika pola hidup mereka yang konsumtif ditambah dengan meningkatnya jual beli online berimbas pada peningkatan pemakaian kemasan, pembungkus, bubble wrap, dan kantong plastik pada saat pengemasan dan pengiriman barang-barang. Hal inilah yang menyebabkan jumlah sampah semakin banyak.

Bila kita kembalikan kepada Islam, karena  Islam agama sempurna yang tidak hanya mengatur masalah ritual saja, melainkan juga mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk masalah sampah. Maka kita akan  temukan kesempurnaan yang menjadikan Islam memiliki segala solusi yang bisa menyelesaikan masalah manusia dan lingkungannya.

Islam mengajarkan kepada pemeluknya bagaimana harus menjaga, mengelola, dan mengolah dengan baik lingkungan sekitarnya maupun hasilnya. Islam juga melarang manusia untuk membuat kerusakan di bumi atau yang menjadi sebab kerusakanannya. Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang yang berbuat baik.” (TQS. Al A’raf ayat 56).

“Telah tampak kerusakan di darat dan laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Rum ayat 41).

Maka dari itu masalah sampah bisa diatasi dengan adanya kesadaran dan tanggung jawab yang harus dimiliki oleh setiap individu, masyarakat, dan negara.

Pertama, individu. Islam mendorong setiap Muslim memiliki kesadaran terhadap kebersihan dan melestarikan lingkungan. Sehingga dengan kesadaran ini, akan menumbuhkan tindakan setiap individu untuk melakukan pemilahan sampah, pengelolaan sampah rumah tangga, dan mengurangi konsumsinya.

Salah satu cara untuk mengurangi penggunaan sampah adalah dengan mengonsumsi sesuatu secukupnya. Membeli pakaian, barang, hingga makanan hanya yang diperlukan saja, bukan membeli karena keinginan apalagi untuk menumpuknya. Karena Islam melarang hal tersebut, sebagaimana firman Allah SWT:

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al A’raf ayat 31).

 

Begitulah konsep wara dan zuhud harus dipegang. Sebab yang menjadi standar hidup seorang Muslim adalah ridha Allah berdasarkan halal-haram. Dengan begitu ia paham bahwa setiap sesuatu yang dibeli akan dihisab (ditanya akan pemanfaatannya).

Kedua, masyarakat. Pengelolaan sampah secara individu dikondisi tertentu sangat terbatas. Maka diperlukan adanya kepekaan dan kerjasama di antara masyarakat untuk mengolah sampah komunal. Seperti, masyarakat membuat program bergilir untuk membakar, memilah, atau mengelola sampah rumah tangga yang tidak bisa diselesaikan secara individu. Di sisi lain masyarakat terus melakukan kewajiban amar makruf nahi munkar, termasuk mengenai bab pelestarian dan pengelolaan lingkungan.

Ketiga, negara. Negara memiliki peran yang sangat penting untuk mengatasi masalah sampah memalui peraturan yang diambil berdasarkan hukum syarak dengan upaya preventif maupun kuratif.

Terlebih pengelolaan sampah juga merupakan upaya preventif dalam menjaga kesehatan. Di mana kesehatan termasuk kebutuhan sosial primer yang harus dijamin oleh negara, selain kebutuhan pendidikan dan keamanan.

Adanya pemukiman masyarakat yang heterogen yang menghasilkan sampah komunal dan tidak bisa ditangani oleh individu ataupun masyarakat, pelaku industri kecil maupun industri besar yang menghasilkan sampah dalam jumlah banyak, hingga macam-macam sampah yang beda penanganannya, maka dibutuhkan adanya peran negara sebagai pelayan masyarakat untuk menyediakan sistem dan instalasi pengelolaan sampah.

Pemerintah juga harus menyediakan segala sumber daya hingga dana untuk mengadakan instalasi pengelolaan sampah agar sampah terkelola dengan baik. Pemerintah juga mendorong para ilmuwan untuk menciptakan teknologi pengelolaan sampah ramah lingkungan sehingga bisa diadopsi dan digunakan oleh pabrik besar maupun masyarakat.

Begitu juga yang pernah diterapkan di masa keemasan Islam. Sejarah peradaban Islam telah mencatat pengelolaan sampah sejak abad 9-10 M. Pada masa Bani Umayah, jalan-jalan di Kota Cordoba telah bersih dari sampah-sampah karena ada mekanisme menyingkirkan sampah di perkotaan yang idenya dibangun oleh Qusta ibn Luqa, ar-Razi, Ibn al-Jazzar dan al-Masihi. Tokoh-tokoh Muslim ini telah mengubah konsep sistem pengelolaan sampah yang sebelumnya hanya diserahkan pada kesadaran masing-masing orang, karena di perkotaan padat penduduk telah berpotensi menciptakan kota yang kumuh (Lutfi Sarif Hidayat, 2011).

Sebagai perbandingan, kota-kota lain di Eropa pada saat itu belum memiliki sistem pengelolaan sampah. Sampah-sampah dapur dibuang penduduk di depan-depan rumah mereka hingga jalan-jalan kotor dan berbau busuk (Mustofa As-Sibo’i, 2011).

Oleh karena itu, dengan adanya kesadaran dan tanggung jawab setiap individu, masyarakat, dan negara menjadikan seluruh komponen masyarakat akan lebih peduli terhadap lingkungan. Sebab apapun yang diperbuat harus terikat dengan hukum syarak dan setiap perbuatan yang dilakukan akan dihisab di akhirat kelak, termasuk tindakannya dalam menjaga lingkungan.

Maka, tak ada solusi yang mengakar selain solusi Islam Kaffah. Sebab Islam bukan hanya fokus pada akibat yang nampak dari problematika sampah. Tetapi juga penyebab yang melatarbelakangi sampah bisa membludak yaitu karena diterapkannya sistem kapitalisme sekuler.

Bagikan Postingan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *