MENGANTISIPASI UNTUK MENGURANGI KERUGIAN

Oleh: Indra Kristian
Dosen Universitas Al ghifari,
Penulis Buku Organisasi Kebencanaan Teori dan Praktek.

Indonesia memang merupakan Negara dengan sebutan supermarket Disaster artinya semua jenis bencana ada di Indonesia, saat ini Indonesia masih berjuang melawan Pandemi Covid-19 yang dikabarkan kembali merangkak naik dengan varian yang baru. Pekerjaan yang tidaklah mudah untuk kembali pulih dari gelombang pandemic yang berkepanjangan sejak desember 2019 diumumkan, dan Indonesia mulai terdampak sejak maret.
Pada hari senin tanggal 21 Nopember 2022 kita kembali dikejutkan dengan musibah terjadinya gempa bumi dengan kekuatan 5,6 melanda daerah cianjur dan sekitarnya. Sampai tulisan ini dibuat jumlah korban yang terdata mencapai 62 orang, 362 orang luka ringan hingga berat, 2.345 rumah rusak berat, dan 13.400-an orang mengungsi. (data BPBD Kab Cianjur). Kerusakan infrastruktur juga tercatat di Kabupaten Bogor. Sebanyak 46 rumah rusak, Kabupaten Sukabumi 443 rumah rusak, dan di Kota Sukabumi sebanyak 14 unit rumah rusak.
Seperti yang dilaporkan oleh beberapa sumber dan dicatat oleh beberapa media, kebanyak korban adalah anak sekolah hal ini terjadi karena beberapa sekolah rusak bahkan runtuh dan kejadian gempa terjadi saat anak sekolah sedang melaksanakan proses belajar mengajar. Melihat apa yang sudah terjadi maka pembelajaran mengenai kebencanaan bagi masyarakat umum bahkan bagi anak sekolah adalah sebuah keniscayaan (Kristian.2020;buku organisasi kebencanaan teori dan praktek). Memang dalam menghadapi bencana bukanlah sesuatu hall yang dapat diprediksi terutama terkait bencana alam seperti gempa bumi, Karena terjadinya gempa sulit kali ditentukan waktunya, berneda dengan banjir, misalnya ketika terjadinya penggundulan hutan maka jika ada huja bisa dipastikan adanya banjir karena tdak adanya pohon yang menahan laju air.
Namun kejadian demi kejadian yang menimpa bisa kita ambil pelajaran yang berharga. Mari sama-sama kita lihat bagaimana jepang mengajarkan anak-anak sekolah bertindak ketika terjadinya gempa, bahkan dari sisi bangunan, dan pemulihan pasca bencana jepang patut kita contoh. Penulis menyadari dalam situasi kepanikan memang akan sulit sekali untuk melaksanakan kegiatan sesuai dengan apa yang kita rencanakan, namun jika sudah menjadi kebiasaan sepanik apapun kita bahkan anggota tubuh kita yang lain akan secara otomatis melakuka tindakan sesuai dengan apa yan sering kita lalukan.
Dalam tulisan singkat ini ijinkan penulis menyampaikan saran terkait pentingya pengetahuan tentang bencana ini diajarkan sejak dini, misalnya apa yang harus dilakukan jika sedang bersekolah terjadi bencana gempa, jalur evakuasi mana yang diambil dan kemana harus melangkah. Tindakan paling sederhana misalnya jika terjadi gempa daripada harus berlari keluar ruangan dengan resiko tertimpa reruntuhan akan lebih baik jika melakukan tindakan pencegahan dengan berlindung dibawah meja. Pemerintah jepang bahkan melakukan hal hal sebagai berikut :
membagi warga mendapat radio yang dibagikan pemerintah daerah untuk bisa menerima perintah mengungsi.
Anak usia sekolah berlatih berlindung di bawah meja ketika mengikuti latihan kesiapan gempa.
Semua warga dewasa mendapat informasi mengenai lokasi pusat evakuasi terdekat, seperti taman atau lapangan olahraga.
Kegiatan diatas bukan hanya sekedar anjuran namun sering dilatihkan oleh pemerintah di jepang, sehingga masyarakat sudah terbiasa dan selalu siaga dalam menghadapi segala kemungkinan. Dan hal baik seperti ini kenapa tidak kita laksanakan. Jika harus merubah kurikulum dan memasukan pengetahuan bencana kedalam kurikulum akan membutuhkan proses, namun ham sederhana seperti membentuk forum yang saat ini ada seperti Taruna Tangguh Bencana (Tagana), Desa Tangguh Bencana (Destana), juga bisa membentuk sekolah tangguh bencana (Setabna)

Gambar 1

Gambar diatas menunjukan betapa jepang telah melakukan tindakan prepentif dengan mengajarkan para siswa sejak dini dalam mengantisipasi jika terjadinya bencana.
Sebagai penutup saya menyarankan bagi pemerintah khususnya stakeholder terkait agar melaksanakan tindakan antisipasi dan melatihkan dengan sungguh-sungguh agar kerugian akibat ketidaksiapan kita dalam menghadapi segala kemungkinan dapat dihindari. Terutama korban jiwa dari kalangan anak-anak yang merupakan generasi penerus yang akan melanjutkan perjuangan kita mewujudkan Indonesia yang adil makmur.

Bagikan Postingan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *