PEMKOT CIMAHI LAKUKAN REVIEW KINERJA TAHUNAN AKSI INTEGRASI STUNTING TAHUN 2022

Kota Cimahi, BarayaKita –  Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan berkualitas memiliki kontribusi yang besar untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia Indonesia. Namun, tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia untuk memiliki SDM yang unggul dan berkualitas masih terkendala beberapa masalah, salah satunya kejadian stunting pada anak.

Gangguan kesehatan ini merupakan kondisi serius yang ditandai dengan tinggi badan anak di bawah rata-rata atau anak sangat pendek serta tubuhnya tidak bertumbuh dan berkembang dengan baik sesuai usianya dan berlangsung dalam waktu lama.
Stunting terjadi pada bayi dengan gizi yang tidak optimal dari sejak lahir hingga tiga tahun pertama kehidupannya, infeksi berulang, atau stimulasi yang buruk dari lingkungan. Selain itu permasalahan kesehatan yang dialami oleh ibu hamil selama proses kehamilannya, seperti infeksi pada kehamilan atau kekurangan gizi (malnutrisi) pun dapat menyebabkan bayi terlahir dalam kondisi yang tidak optimal perkembangan dan pertumbuhannya sehingga dapat berpotensi terjadi stunting.

Bila dibiarkan stunting akan berdampak buruk bagi kehidupan anak karena berpotensi menimbulkan gangguan sistem kekebalan tubuh, gagal tumbuh, masalah fungsi otak dan perkembangan organ, daya tahan tubuh rendah, gangguan fisik dan mental, serta mengancam produktivitas dan fungsi hidup di masa depan. Oleh karenanya stunting menjadi salah satu penyebab rendahnya kualitas sumber daya manusia untuk bersaing di tingkat global.

Menyadari pentingnya upaya untuk memerangi stunting, Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Kesehatan Kota Cimahi menggalakan program Aksi Integrasi Stunting yang telah dimulai sejak tahun 2021. Kota Cimahi ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menjadi lokus penanggulangan dan pencegahan stunting Tahun 2021 melalui 8 aksi konvergensi.

Review Kinerja Tahunan Aksi Integrasi Stunting di Kota Cimahi Tahun 2021 diselenggarakan pada hari Senin (30/5) bertempat di Grand Hotel Universal, Setiabudhi, Bandung. Pelaksana Tugas (Plt.) Wali Kota Cimahi, Letkol (Purn.) Ngatiyana hadir untuk menutup kegiatan tersebut.

Dalam sambutannya Ngatiyana mengungkapkan 8 aksi konvergensi percepatan penurunan stunting di Kota Cimahi meliputi analisis situasi, rencana kerja, rembuk stunting, Peraturan Wali Kota tentang peran kelurahan, pembinaan kader pembangunan manusia, sistem manajemen data, pengukuran dan publikasi data stunting, serta review kinerja tahunan.
Angka stunting pada tahun 2021 di Kota Cimahi adalah sebesar 10,18%, sedangkan di tingkat nasional adalah sebesar 37,2%. Ngatiyana menyebutkan meski pun angka tersebut masih berada di bawah persentase nasional, namun bukan berarti dapat diabaikan karena dapat menimbulkan masalah kompleks di masa depan apabila tidak diatasi sedari dini.

“Hal yang paling penting adalah mempersiapkan calon ibu agar cukup gizi pada saat hamil. Salah satunya dengan program pendampingan seribu hari pertama kehidupan,” tukas Ngatiyana menjelaskan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko stunting pada anak.

“Cara pencegahan yang lain adalah memberikan ASI eksklusif dan makanan pendamping ASI yang sesuai pedoman gizi seimbang, pemberian pola makan, dan pola asuh yang tepat. Para orang tua pun dituntut memberikan sanitasi yang memadai agar anak terbebas dari cacing, hal ini bisa dilakukan melalui penyediaan air bersih, jamban sehat dan bersih, serta cuci tangan memakai sabun dan air mengalir serta yang tidak kalah penting adalah memantau pertumbuhan balita di posyandu,” tambahnya.

Ngatiyana menegaskan bahwa masalah stunting merupakan tanggungjawab semua pihak. Gerakan pencegahan dan penanganan stunting menjadi suatu keharusan bagi semua pihak untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatan demi kesejahteraan seluruh masyarakat.
“Kepedulian kita pada masalah stunting tidak boleh setengah-setengah karena anak-anak adalah penerus kita untuk pembangunan bangsa,” ujar Ngatiyana menegaskan.

Ia pun mengajak seluruh Perangkat Daerah, Camat, Lurah, Organisasi Profesi, dan seluruh elemen masyarakat termasuk PKK dan Ibu-Ibu Kader untuk berperan serta dalam penanggulangan masalah gizi terutama stunting, “ Mari kita bersama-sama terus berusaha melakukan perbaikan-perbaikan dalam rangka mewujudkan generasi penerus yang berkualitas,” tandasnya.

Bagikan Postingan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *