NIKMATNYA BERBELANJA KE PASAR TRADISIONAL

Sambil menikmati aneka makanan tradisional, di antaranya lotek, makanan khas Sunda

Zaman sebelum pandemi, saya suka sekali blusukan ke pasar tradisional. Namun, sejak wabah pandemi melanda negara kita, terpaksa kegiatan mengasyikkan tersebut saya hentikan, maklum takut tertular virus covid-19.

Kini setelah kondisi pandemi kian mereda, rasanya saya kangen ingin kembali blusukan. Ini ada sebuah kisah kecil ketika saya masih suka blusukan ke pasar tradisional di seputaran Pasar Simpang Dago, Kota Bandung sekitar dua tahun silam.

“Neng, aslinya dari mana?” Sapa Ibu penjual lotek ramah, sambil ia memasukkan bumbu lotek ke dalam cobek dan menguleknya dengan terampil.

“Saya mah asli orang Sunda atuh Bu, lihat saja wajah saya Sunda pisan,” jawab saya sambil senyum dan memperhatikan tangannya yang cekatan memasukkan sayuran ke dalam cobek besar.

Ah masa sih, saya kira orang Padang. Soalnya Neng kulitnya putih cantik,” balas Ibu penjual lotek tersebut spontan.

Aiih, Ibu bisa saja kalau muji,” ujar saya tertawa geli karena dikira orang Padang, rasanya jauh pisan gak ada mirip-miripnya.

Lotek, makanan tradisional khas Sunda (Sumber: Instagram javafoodie)

 

Saya sangat excited kalau belanja di pasar tradisional karena para pedagangnya selalu ramah menyapa penuh keakraban. Ada juga satu dua orang pedagang yang wajahnya jutek, langka senyum, walau sudah disapa dengan baik.

Tak berapa lama, lotek pesanan saya sudah selesai, dibungkus rapi dengan lapisan daun pisang. Si ibu menyerahkan bungkusan lotek dengan sopan dan saya barter dengan uang sepuluh ribu.

“Mudah-mudahan kaanggo ya Neng lotekna, sesuai rasanya dengan selera Neng,” jawan si Ibu penjual lotek dengan ramah.

Aamiin, nuhun Buu,” saya pamit dan bergegas menuju parkiran motor. Mang parkir menyapa dengan ramah bak mentari pagi yang baru memunculkan warnanya, cerah, dan hangat.

Tiba di rumah, saya tak sabar membuka bungkusan lotek. Hmmm, wangi perasan jeruk purut menelusup hidung, membuat saya semakin lapar.

Sebungkus lotek sudah tersaji di atas piring. Kebetulan ada kakak mampir ke rumah. Akhirnya kita sarapan lotek berdua hingga piring tandas tak bersisa.

Wah, uenakkk juga nih loteknya. Besok balik lagi aah ke pasar Simpang Dago, mau beli lotek sekalian gudegnya. Tampilan gudegnya juga tadi tampak menggugah selera.

Udah loteknya enak pisan, yang jual juga ramah, paket komplit pokoknya. Pantesan lotek dan gudegnya tidak pernah sepi pembeli. Kata si ibu, pukul 10 pagi semua dagangannya sudah habis pindah ke perut para pelanggannya.

 

 

Judul: Nikmatnya Berbelanja ke Pasar Tradisional
Penulis: Arnie Sanib Arundari
Editor: JHK

 

Sekilas Penulis

Arnie Sanib Arundari, penulis (Sumber: koleksi pribadi penulis)

Enung Suwarni, yang memiliki nama pena Arnie Sanib Arundari, lahir di Bandung 12 September 1973. Salah satu hobinya adalah menulis dan sampai saat ini tergabung dalam komunitas Penulis Kreatif (KPKers). Beberapa artikelnya sudah dibuat di media nasional dan ada juga karya berupa buku yang diterbitkan oleh Mizan.

Saat ini, Arnie Sanib aktif mengajar sebagai Dosen di Universitas Persatuan Islam (UNIPI) dan menjabat sebagai Ketua Prodi Bisnis Digital. Selain di UNIPI, mengajar juga di Universitas Sangga Buana YPKP Bandung fakultas FISIP.

Tidak jauh dari hobi tulis-menulis, di kampus Arnie Sanib tergabung dalam kelompok penulis ilmiah ETDC UNIPI dan sebagai Managing Editor jurnal Dimmensi di kampus USB YPKP. Selain menulis, Arnie Sanib senang mengedit buku/tulisan yang akan diterbitkan. Seorang kolega mengatakan bahwa mata Arnie Sanib itu “tajam” karena jeli sekali melihat tulisan yang salah atau kurang pas.

 

 

Sumber : Arnie Sanib Arundari, https://pratamamedia.com/nikmatnya-berbelanja-ke-pasar-tradisional/

Bagikan Postingan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *