HARI SATELIT PALAPA, SEJARAH 9 JULI 1976, DAN RIWAYATNYA KINI 2021

Indonesia pernah punya sejarah yang membanggakan. Hari Jumat tanggal 9 Juli 1976, Satelit Palapa A1 berhasil mengorbit di luar angkasa. Hingga kini, setiap tanggal 9 Juli diperingati sebagai Hari Satelit Palapa. Lantas, bagaimana riwayatnya kini? Kisah mengorbitnya Satelit Palapa dengan roket peluncur Delta 2914 kala itu memang tidak seriuh peristiwa mendaratnya Neil Amstrong di bulan pada 20 Juli 1969. Kendati begitu, bagi Indonesia, terlebih untuk pemerintahan Orde Baru pimpinan Soeharto, hal tersebut amat membanggakan.

Satelit dengan kode Palapa A1 itu merupakan satelit pertama milik Indonesia yang berhasil diorbitkan di atas Samudera Hindia. Kini, tanggal bersejarah itu diabadikan menjadi Hari Satelit Palapa, hari di mana Indonesia untuk pertama kalinya memiliki satelit sendiri.

Satelit Palapa & Sejarah Kebanggaan Nama “Palapa” diambil dari ikrar legendaris yang pernah diucapkan Mahapatih Kerajaan Majapahit, Gajah Mada, yakni Sumpah Amukti Palapa. Gajah Mada bersumpah tidak akan mengecap kenikmatan duniawi sebelum menyatukan Nusantara di bawah naungan Majapahit.

“Saya ingat pada sejarah Mahapatih, Gajah Mada dulu yang telah bersumpah tidak akan makan buah Palapa sebelum persatuan dan kesatuan Kerajaan Majapahit menjadi kenyataan,” tulis Soeharto dalam autobiografinya yang bertajuk Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (1989).

Klaus G. Johansen, penulis buku Jalan ke Bogor: Palapa dan Wanita Papua (2004) yang merupakan biografi Walter Peterson, seorang ekspatriat Amerika yang ikut merancang Satelit Palapa, menulis sebagai berikut:

“Peluncuran satelit dari Satelit Palapa merupakan suatu peristiwa nasional yang mempunyai arti besar bagi Indonesia. Pejabat tertinggi pemerintahan terlibat dalam proyek yang mempertaruhkan gengsi nasional.” Pada era 1970-an, satelit bukan barang yang bisa dimiliki banyak negara. Oleh karena itu, keberhasilan Satelit Palapa A1 membuat Indonesia dapat berbangga di hadapan negara-negara Asia lain.

Catatan Ishadi Sutopo dan Sumarsono Soemardjo dalam Dunia Penyiaran: Prospek dan Tantangannya (1999) menyebutkan bahwa “Indonesia merupakan negara ketiga di dunia setelah Kanada dan AS yang membangun sistem komunikasi satelit domestik.”

Berhasil mengorbitnya Palapa A1 pada 1976 barangkali dapat dibanggakan Soeharto sebagai bukti keberhasilan pembangunan nasional yang digembar-gemborkan rezim Orde Baru.

“Karena pembangunan berhasil, kita mampu membeli satelit dan roket (untuk generasi pertama, sedangkan generasi kedua dengan pesawat ulang-alik) yang melontarkannya ke angkasa,” tulis Abdul Gafur dalam buku Pak Harto: Pandangan dan Harapan (1987). Berkat satelit ini, TVRI dapat mengudara di Sabang hingga Merauke. David T. Hill melalui buku The Press in New Order Indonesia (1991), menyebutkan bahwa berkat satelit ini pula kemudian muncul stasiun-stasiun televisi swasta. Perkembangan media telekomunikasi Indonesia berawal dari sini. Riwayat Satelit Palapa Kini Bila nama “Palapa” diambil Soeharto dari sejarah Gajah Mada, dua huruf yang menyertainya adalah kode peluncuran satelit. Setiap satelit punya masa operasinya. Ketika masa operasi itu habis, maka satelit baru pengganti satelit lama diluncurkan. Demikian pula dengan satelit Palapa. Selama 40 tahun, satelit ini telah berganti kode peluncuran sebanyak 19 kali. Satelit Palapa A1 digantikan A2, kemudian B1, lalu B2, B2P, B2R, lalu B4, C1, C2, hingga D. Pemegang hak pengelolaan satelit Palapa juga berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Satelit Palapa A1 yang tadinya dikelola oleh Perumtel (kini berganti nama menjadi Telkom), kemudian berpindah tangan ke PT Satelindo. PT Satelindo merupakan anak perusahaan Telkom hasil patungan dengan PT Bimagraha Telekomindo dan Indosat. Dan terakhir, satelit ini dikelola oleh PT Indosat Ooredoo.

Satelit Palapa D yang dikelola PT Indosat Ooredoo menjadi Satelit Palapa termutakhir dan terakhir. Diluncurkan pada 31 Agustus 2009, Satelit Palapa D berhenti beroperasi pada 1 Juli 2020 lalu. Kini, jalur orbit yang digunakan Satelit Palapa D kosong. Sejatinya, jalur tersebut akan digunakan sebagai jalur Satelit Nusantara 2, namun peluncuran satelit tersebut gagal dilakukan. Dilansir Siaran Pers No. 6/HM/Kominfo/01/2021, Indonesia memulai proyek Satelit Multifungsi sebagai pengganti berakhirnya massa operasi Satelit Palapa. Harapannya, satelit ini dapat menghubungkan tiap daerah di Indonesia sampai ke pelosok-pelosok negeri.

 

Disadur dari : https://tirto.id/hari-satelit-palapa-sejarah-9-juli-1976-dan-riwayatnya-kini-2021-ghzG

Bagikan Postingan :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *