HARI PUISI NASIONAL : KARAKTER DIRI YANG MEMBENTUK PUISI CHAIRIL ANWAR

28 April selalu diperingati sebagai hari puisi nasional saban tahun. Tanggal tersebut adalah tanggal di mana pada 1949, seorang begawan puisi Indonesia meninggal di umur 27. Chairil Anwar namanya. Nama yang sudah tidak asing lagi di buku-buku pelajaran bahasa Indonesia kita, bukan? Ia merupakan sosok yang unik karena urakan, susah diatur, dan sangat menjunjung tinggi kebebasan serta cerdas.

Chairil Anwar merupakan penulis yang produktif. Mengutip dari Tirto, selama periode 1942-1949 ia telah menghasilkan 94 tulisan di mana di dalamnya termasuk 70 sajak asli, 4 saduran, 10 sajak terjemahan, 6 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan. Karya-karyanya ini juga menjadi tanda peralihan dari era Pujangga Baru menuju Angkatan 45 yang modern.

Lalu bagaimana karakter diri Chairil Anwar terbentuk sehingga puisi-puisinya sebegitu menohok? Mari kita runtut dari awal.

Dikutip dari Chairil Anwar Bagimu Negeri Menyediakan Api, Chairil Anwar lahir pada 26 Juli 1922 dari pasangan Toeloes bin Manan dan Siti Saleha binti Datuk Paduko Tuan. Ayah Chairil adalah seorang yang terpandang. Di zaman penjajahan Belanda, ia berpangkat controleur. Setelah merdeka, ia diangkat menjadi Bupati Indragiri. Keluarga sang penyair begitu tercukupi, segala apa yang ia minta pun dituruti. Karena itu, Chairil jadi sosok yang manja dan mau memang sendiri (2007 : 11-12).

Ayahnya juga gemar mengoleksi buku. Budaya literasi di rumahnya telah ada sejak Chairil kecil. Si ayah juga mengupayakan bahwa pendidikan anak-anaknya harus yang terbaik, juga mendukung anak-anaknya mengasah bakat seninya. Chairil pun memilih jalur sebagai penyair, didorong kebiasaan membaca buku yang telah ia gemari sejak lama. Chairil mengakui bahwa titik mula kepenyairannya telah muncul sejak umur 15 tahun.

Bahan bacaan Chairil begitu luas. Ia telah melahap karya-karya sastra barat seperti Rainer Maria Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, Hendrik Marsman, J. Slaurhoff, Edgar Du Perron. Kehausannya akan membaca pernah beberapa kali melebihi batas. Ia terkenal sering meminjam tanpa izin buku temannya, juga mencuri buku di toko. H.B. Jassin dan Subagio Sastrowardoyo adalah korban di kasus pertama. Toko Van Dorp dan Kolff di Jalan Juanda, Jakarta adalah korban di kasus kedua di mana Chairil selalu bersiasat dengan Asrul Sani sebagai partner in crime-nya.

Chairil dan kawan-kawan sejawatnya memiliki karakter yang berbeda dengan para penyair era Pujangga Baru. Angkatan 45 menyadari bahwa pengetahuan sastra mereka begitu terbelakang, sementara terdapat banyak sekali karya yang begitu hebat belum dijamah sama sekali. Maka dari itu mereka mempelajari dan menerjemahkan karya-karya sastra dunia paling pamungkas hingga kini, seperti: Dostoyevsky, Tolstoy, Chekov, Pushkin, Ehrenburg, Rilke, Gide, Malraux, Saint Exupery, de Maupassant, Huxley, Hemingway, Steinbeck, dan lain-lain. Semua kawan-kawan Chairil punya semangat yang sama menggebu-gebu.

Puisi-puisi Chairil juga puisi-puisi yang berani mengubah struktur dan menjadi pembeda. Kata-kata di dalamnya mengandung khasanah melayu yang sangat kental dipadu dengan strukturnya yang lebih sembarang. Ia mampu menangkap peristiwa-peristiwa penting dan mengubahnya ke dalam kata-kata yang klop, melahirkan karya yang bernas dan paripurna. Kedalaman puisinya juga tidak perlu ditakar. Si kurus ini kembali hidup dalam bayang-bayang kita setiap kali membaca karyanya. Chairil adalah binatang jalang, yang tetap hidup 1000 tahun lagi.

 

Disadur : https://literasinusantara.com/hari-puisi-nasional/

Bagikan Postingan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one + twelve =