EVOLUSI TEORI ORGANISASI

Penulis: Dr. Indra Kristian

 

Organisasi bentuk lembaga yang dominan dalam masyarakat kita, kita mungkin di lahirkan dalam rumah sakit dan mungkin akan dimakamkan oleh sustu yayasan sosial yang bergerak di bidang pemakaman. Jika bercerita lahirnya organisasi sehingga terbentuknya sebuah teori organisasi maka kita haruslah melihat kembali mengenai sejarah bagaimana Nabi Musa mendapatan saran dari bapak mertuanya yang berbunyi “ Musa jika kamu melakukan itu terus menerus maka kamu akan kelelahan, maka tunjuklah beberapa orang terbaik, perintahkan mereka untuk menampung keluhan dari kelompok yang dipimpinnya, berilah kekuasaan atau kewenangan bagi mereka untuk mengambil keputusan untuk sesuatu yang mereka bisa atasi dan mereka wajib melaporkan perkembangan bawahannya kepada kamu, sehingga orang-orang terbaik tadi mewakili dirimu untuk strata tertentu.” (di terjemahkan secara bebas melalui beberapa penyesuaian). Dari kisah di atas dan dari pembukaan tulisan ini di awal jelaslah bahwa hidup kita selalu bersinggungan dengan yang namanya organisasi. Contoh mengenai sejarah nabi musa di atas adalah sebuah solusi dimana organisasi terjadi membutuhkan pemimpin utama sebagai penentu kebijakan makro dan pemimpin di unit lebih kecil yang mempunyai kewenangan yang bersifat lokal.

Teori yang ada sekarang ini merupakan hasil dari sebuah proses evolusi. Selama beberapa decade, para akademisi dan praktisi dari berbagai latar belakang dan presfektif  telah mengkaji dan menganalisis organisasi-organisasi. Yang paling menarik untuk dikaji adalah lompatan teori-teori tersebut yaitu ketika tahu 1960 an dimana Woorward dan Parrow memberikan alasan yang kuat mengenai pentingnya teknologi di dalam menentukan struktur sebuah organisasi. Seperti halnya lingkungan tidak ada diskusi pada masa kini mengenaii organisasi yang dapat dikatakan lengkap tanpa memperhitungkan teknologi dan kebutuhan bagi para manajer untuk memadukan struktur dengan teknologi.

Sebuah Lompatan Saat ini kita telah memasuki era dimana kekuatan digital telah memporakporandakan, semua teori yang ada tidak terkecuali teori organisasi, jika dalam paragraph sebelumnya saya mengutip pendapat para ahli mengenai pentingnya teknologi di dalam menentukan struktur yang sesuai bagi sebuah organisasi. Namun para teoritikus di atas akan kecewa melihat saat ini teknologi telah merubah segalanya dalam organisasi. Bahkan dengan teknologi organisasi sudah kehilangan marwahnya. Jika merujuk pada apa yang di katakan Robin dalam bukunya teori organisasi, organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang di koordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relative dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relative terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan. Dalam berorganisasi saat ini manusia yang merupakan unsur utama sebuah organisasi melupakan apa yang di sampaikan oleh para teoritikus organisasi bahkan melupakan unsur unsur dalam organisasi seperti adanya pemimpin sebagai inti sebuah organisasi dan adanya money (uang/dana) sebgai pergerak roda organisasi dan method yang berisikan struktur organisasi yang harus di patuhi serta hierarki dari organisasi tersebut. Bahkan sudah di kupas di atas bagaimana organisasi jaman nabi musa di bentuk agar terciptanya keteraturan.
Jika melihat penjelasan diatas memang saat ini terjadi Gap antara teori dengan prakteknya mengenai organisasi, bagaimana tidak saat ini bak cendawn di musim hujan, organisasi dengan sangat mudahnya di bentuk dari mulai organisasi yang bergerak di bidang sosial ada juga organisasi yang mengumpulkan bidang profesi tertentu organisasi guru insinyur advokat, Dosen, Hakim bahkan Alumni pun membentuk organisasi. Disparitas yang terjadi adalah orang-orang yang bergabung dalam organisasi kadang orang yang tidak mengerti arti organisasi secara teori, bahkan mereka membentuk organisasi dengan menunjuk salah satu dari mereka sebagai pemimpin, alasan penunjukan inipun kadang tidak di sesuaikan dengan kapasitas dan kapabilitas orang tersebut, ironinya sebuah organisasi bentukan yang ada karena di awali oleh group sosial media (Whatapps, FB, IG, Telegram) yang notabene tidak ada sesuatu yang mengikat secara normative, menunjuk admin group sebagai pemimpin yang akhirnya semua keputusan pemimpin penujukan tersebut selalu di pertanyakan, , yang menjadi lebih parah adalah ketika pemimpin ini tidak memiliki kemampuan untuk memimpin, artinya adalah pemimpin merupakan seseorang yang mampu secara arif dan bijaksana menjadi sosok figure yang bisa menjadi tauladan, penuh ketegasan dan berani mengambil keputusan, bagaimana jadi seorang pemimpin yang baik ketika dia menjadi sosok pemimpin yang mengangkat dirinya sendiri. Dalam teori ada istilah batasan yang relative bias di identfikasi artinya kita bias membedakan antara mana anggota organisasi mana pengurus dan mana bukan anggota.
Sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia organisasi yang baik adalah organisasi yang terdaftar di Kemenkumham, dan memiliki AD/ART yang baik yang di sepakati oleh para pengurus.
Kompleksitas sebuah struktur organisasi memang di perlukan disesuaikan dengan kebutuhan organisasi, syarat minima organisasi seperti yang sudah di syaratkan oleh Kemenkumham adalah adanya Ketua Sekretaris dan Bendahara, dan group sosmed pun sekarang sering membuat struktur yang serupa namun karena mekanisme pembentukan struktur itu tidak sesuai kaidah akademis maka tidak jarang terjadi kesalahfahaman dalam berorganisasi di sosial media.
Group sosial media apakah akan menjadi sebuah organisasi ?
apakah teori organisasi tersebut sudah di cederai oleh yang namanya sosmed ? ataukah memang sebuah evolusi dari teori organisasi yang seharusnya dilaksanakan kajian secara mendalam mengenai hal tersebut. Semoga ada yang mau melaksanakan penelitian secara komprehensif mengenai gap yang terjadi di atas.
Ref :
Buku Teori Organisasi Stephen P Robbin edisi 3

Bagikan Postingan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eight − 7 =