PERAN TEKNOLOGI DAN EFEKTIVITAS PENANGANAN PANDEMI

Oleh: Siti Susanti

Pengelola Majlis Zikir Assakinah Bandung

BarayaKita – Hidup di abad ini banyak hal terasa mudah. Bisa dibilang, di zaman ini jika ngin makan tinggal duduk, pencet dan makanan sudah tersedia. Bahkan bisa berselancar ke manapun yang disuka. Teknologi gawai dengan berbagai aplikasinya sangat membantu memenuhi kebutuhan manusia.

Demikian pula apa yang dilakukan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang dikenal gencar melakukan berbagai inovasi, menggunakan aplikasi yang disebut aplikasi Pikobar untuk menangani pandemi COVID-19. Menurut Kang Emil, kunci penanganan COVID-19 adalah kepemimpinan dan inovasi. Dilansir humas.jabarprov.go.id, aplikasi ini telah mendapatkan penghargaan di level internasional dan menjadi sumber informasi masyarakat Jabar terkait penanganan COVID-19. Mulai dari data kasus harian, pendaftaraan relawan, donasi, sampai aduan bantuan sosial (bansos), ada dalam Pikobar.(25/2)

Namun demikian, inovasi ini ternyata belum terbukti efektif menangani Covid-19. Justru Jawa Barat tercatat sebagai provinsi yang melaporkan kasus positif terbanyak, sebanyak 1.894 orang, disusul DKI Jakarta. (Bisnis.com, 3/3)

Peran teknologi sebagai sarana penunjang untuk memenuhi kebutuhan manusia, tampaknya memang akan selalu tergantung kepada sistem pengaturan dan manusia nya itu sendiri. Bagaimana sistem ini mengatur dan mengarahkan manusia agar dapat mengoptimalkan teknologi sebagaimana sarana-sarana yang lainnya. Begitupun dalam menangani COVID-19 sistem pengaturan kehidupan yang terejawantahkan melalui kepemimpinan lah yang akan menentukan keberhasilan atau kegagalannya.

Seharusnya zaman modern saat ini, dimana teknologi dapat berkembang sangat cepat, penanganan pandemi juga bisa cepat. Namun nyatanya tidak demikian. Sistem sekuler kapitalistik saat ini, keberhasilan dimaknai semata-mata terpenuhi segala sesuatu yang bersifat materialistik. Hal ini dikarenakan, nilai-nilai sekulerisme yakni memisahkan nilai-nilai agama dari kehidupan, meniscayakan pengaturan kehidupan berdasarkan akal manusia yang serba terbatas. Maka wajar, ukuran-ukuran keberhasilan dinilai dengan angka-angka materialistik, jauh dari keberhasilan hakiki.

Selain itu, jargon demokrasi yang diadopsi kapitalisme yakni dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat pada realitasnya sering mengakomodir kepentingan para kapital pemilik modal, dibandingkan kepentingan rakyat banyak. Dalam kasus COVID-19, nampak nyata bahwa sistem sekulerisme kapitalisme telah gagal menyelesaikan pandemi secara tuntas, meski berbagai sarana teknologi tercanggih telah digunakan. Ketegasan dalam mengambil langkah-langkah akurat menangani pandemi, seringkali terabaikan, dan lebih mementingkan untung rugi dari segi finansial, bagi kalangan pemilik modal.

Adapun dalam pandangan Islam, satu jiwa sangat berarti. Bahkan, hilangnya dunia lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai dan Turmudzi). Maka langkah-langkah menyelesaikan pandemi akan menjadi fokus utama, karena terkait keberlangsungan hidup manusia.

Dalam kacamata iman, pandemi COVID-19 adalah sebuah musibah dari Sang Pencipta, yang menimpa umat manusia. Sikap seorang mukmin ketika menghadapi musibah, seharusnya sebagaimana tuntunan Allah dalam firmanNya :” Sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNya kami akan kembali”. ( lihat Surat Al Baqarah ayat 156). Ketika meyakini bahwa manusia adalah milik Allah maka selayaknya solusi kehidupan dikembalikan kepada pemilikNya yaitu dengan menjalani syariahNya.

Islam sebagai ajaran yang menyeluruh lagi sempurna mampu menjawab seluruh problematika kehidupan manusia. Metode ijtihad, yaitu proses menggali hukum terhadap masalah-masalah yang muncul berdasarkan dalil-dalil syariah , memungkinkan setiap problem yang baru muncul dapat terjawab dengan syariah Islam.

Terkait pandemi, syariat Islam telah jauh hari memberi solusi secara detil, yang masa kini disebut sebagai karantina wilayah, sebagaimana hadits Nabi SAW: ” Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Pelaksanaan tuntunan Nabi SAW dalam hadits tersebut mengantarkan keberhasilan Khalifah Umar Bin Khattab dalam menghentikan wabah pada zamannya. Di bawah kepemimpinannya, mampu membawa rakyat untuk konsisten menjalani karantina wilayah. Cerminan keimanan beliau RA terpancar jelas melalui langkah-langkah beliau dalam menangani wabah. Baginya, satu jiwa sangat berarti, maka jangan sampai korban wabah berjatuhan semakin banyak.

Islam menjadikan pemilik kewenangan mengurus masyarakat berada di tangan kepala negara, yang dalam bahasa fiqh disebut sebagai imam/khilafah, sebagaimana hadits Nabi SAW :” Imam (kepala negara) adalah penanggung jawab terhadap masyarakat yang diurusnya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban akan pengurusannya”. Kewenangan ini tidak dapat dibagikan meski ia dapat meminta bantuan dalam menjalankan amanahnya, misalnya dengan mengangkat pegawai.

Adapun terkait teknologi, syariat Islam menjadikannya sebagai ranah yang mubah(boleh) digunakan. Bahkan Allah Ta’ala mendorong kaum muslimin untuk giat berinovasi tentangnya. Dalam sejarah keemasan Islam, sudah dikenal berbagai macam teknologi diantaranya teknologi tentang bangunan, optik, pengukuran, pemetaan, dan lain-lain. Bahkan, penemuan ilmuan muslim seperti Alkhawarizmi, Alfarabi, dan Ibnu Sina menjadi dasar penemuan-penemuan dunia selanjutnya. Perkembangan teknologi saat ini dapat dimanfaatkan dalam langkah-langkah menanggulangi pandemi sehingga bisa dilaksanakan secara lebih cepat.

Demikianlah, syariah Islam telah memberikan solusi efektif dalam menangani pandemi, yakni dengan karantina wilayah. Dengan disertai pemanfaatan teknologi, keberhasilan akan lebih mudah tercapai. Dan keberhasilan syariah Islam hanya dapat dirasakan jika ia diterapkan. Cukuplah ayat ini mendorong untuk terikat dengan hukum-hukumNya: ” Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi kaum yang meyakini? ” (Al Maidah 50).

Bagikan Postingan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × 4 =