SKEPTIS

Oleh: Dadang A. Sapardan
(Kabid Pend. SMP Disdik Kab. Bandung Barat)

Sudah beberapa hari ini, seorang teman meyampaikan curhatannya melalui media Whats App. Curhatannya, sekitar kekurangnyamanan bekerja dengan pimpinan barunya. Pimpinannya dianggap belum memiliki kualitas yang mumpuni seperti halnya pimpinan sebelumnya yang sudah purnabhakti. Kegamangan dalam menentukan kebijakan, menurut pandangan Sang teman sangat kentara, sehingga membuat seluruh pekerja yang biasanya mendapat instruksi pasti dari pimpinan terdahulunya, menjadi bingung dibuatnya. Kebijakan yang dibuat pimpinan barunya, kadang tidak didasari kemandirian argumen. Fenomena demikian, melahirkan sikap skeptis pada sebagian besar pekerja. Timbul kekhawatiran akan kemajuan lembaga tempat mereka bernaung selama ini.

Dalam wilayah kerja, adanya dinamika merupakan suatu suasana yang tidak dapat dinafikan dan memang harus terjadi. Dinamika kerja merupakan salah satu refleksi adanya aktifitas yang bergerak. Dinamika kerja bisa dalam bentuk perkembangan pekerjaan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, bisa pula dalam bentuk dinamika yang terkait dengan tampilan sosok pekerja yang menjadi salah satu unsur dalam lembaga.

Manusia tidaklah dapat hidup sendiri dengan hanya mengandalkan kemampuan yang dimilikinya semata. Untuk mencapai tujuan hidupnya, manusia membutuhkan keterlibatan manusia lain, sehingga manusia tidak dapat hidup sendiri. Dalam hal ini, topangan sebagai bentuk dukungan manusia lain sangat dibutuhkan. Kenyataan tersebut merupakan konsensus mutlak yang harus tertanam dalam benak setiap manusia. Demikian pula dalam dunia kerja, ketergantungan di antara seluruh unsur yang mendukung merupakan syarat mutlak ketercapaian target keberhasilan yang telah ditetapkan.

Dalam konteks keberhasilan kerja, salah satu yang menjadi dasarnya adalah kolaborasi. Pekerja yang di dalamnya termasuk pimpinan merupakan organ lembaga yang tidak dapat berjuang sendiri untuk memperoleh target yang telah ditetapkan. Lahirnya kolaborasi di antara para pekerja dalam mencapai tujuan yang ditetapkan merupakan langkah yang harus dibangun oleh seluruh unsur lembaga. Seluruh pekerja dalam sebuah lembaga harus menjadi sekumpulan individu dengan kesamaan pemahaman atas cara, gerak, dan norma kerja yang mengarah pada capaian tujuan yang telah ditetapkan.

Untuk itu, sosok pimpinan menduduki tempat yang sangat strategis. Upaya membangun kesamaan gerak dan langkah dalam bekerja dari setiap pekerjanya sangat ditentukan oleh sosok pimpinan. Kesamaan gerak dan langkah merupakan sebagai represantasi terbangunnya kolaborasi di antara seluruh pekerja. Untuk merealisaikannya, kecakapan dan ketegasan dalam mengimplementasi seluruh program harus dimiliki oleh seorang pimpinan. Dengan demikian, tidak akan lahir kegamangan dalam mengimplementasikan program lembaga yang tidak menutup kemungkinan berujung pada bertumbuh dan berkembangnya sikap skeptis dari sebagian besar karyawan akan keberhasilan lembaga dalam mengapai tujuannya.

Dalam konteks curhatan di atas, yang harus dikedepankan oleh Sang pimpinan adalah memproduksi kebijakan yang dilahirkan atas dasar kolaborasi komunikasi dengan sebagian besar pekerja. Untuk itu, dibutuhkan kecakapan yang mumpuni dalam melahirkan nuansa kolaborasi yang dibarengi dengan ketegasan dalam implementasinya.

Dengan demikian, untuk membuang jauh-jauh lahirnya sikap skeptis pada diri pekerja, kepiawaian sosok pimpinan menjadi syarat mutlaknya. ****Disdikkbb-DasARSS.

 

Sumber : http://disdikkbb.org/news/skeptis/

Bagikan Postingan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

twelve − six =