YANG JANGAN KITA LUPA

Penulis: Indra KW

 

BarayaKita – Dalam 2 hari kedepan kita akan memasuki tahun baru masehi yaitu tahun 2021, dalam kesempatan ini ada beberapa catatan yang ingin saya sampaikan bagi para pembaca, berkenaan dengan apa yang pernah terjadi dalam kurun waktu setahun terakhir, di republic yang kita cintai ini.

Tahun 2020 memang diawali oleh jongjang ganjing tentang pandemic yg di akhir tahun lalu tepatnya akhir 2019 mewabah di seberang sana tepatnya di Wuhan China, belakangan virus yang sangat mematikan itu di kenal dengan nama Covid-19 dan lebih lazim di sebut Virus Corona menyebar keseluruh Dunia bahkan menjadi sebuah Pandemi yang telah mempengaruhi tatanan kehidupan bukan hanya di Negara yang terpapar pandemic, namun membayang setiap Negara yang ada di dunia ini bahkan resesi Dunia tidak dapat di elakkan.

Indonesia termasuk Negara yang dapat dikategorikan terlambat mengumumkan adanya masyarakat yang terpapar kita masih ingat saat itu diumumkan oleh Presiden bahwa 2 orang asal Depok terkonfirmasi terpapar Virus Corona dan keadaan ini memaksa pemerintah untuk membentuk Satgas Penanganan DAmpak Covid – 19 yang di Komandani Kepala BNPB yang notabene beliau adalah seorang prajurit komando dengan prestasi yang tidak diragukan lagi.

Penanganan penyebaran Covid – 19 atau corona diwarnai dengan berbagai hal yang dapat menjadi catatan menarik yang jika kita bedah dari presfektif ilmu sosial maka sudah barang tentu sangat relevan dimana yang menjadi subjek pembahasan kajian adalah manusia, manusia yang terpapar manusia yang berusaha untuk terhindar dari paparan virus, manusia yang cuek dan mengangap bahwa virus ini hanya sebuah konspirasi, manusia yang tiap hari getol memberikan pencerahan kepada kita untuk lebih berdisiplin melaksanakan protocol kesehatan yaitu pake masker sering cuci tangan dan jaga jarak atau jauhi kerumunan, juga ada juga manusia yang memanfaatkan situasi pandemic ini untuk mendapatkan keuntungan mulai dari jualan masker dari yang jual eceran ketetangga atau dipinggir jalan bahkan sampai membuat produksi dengan skala besar bahkanmenjadikannya trend mode saat ini dimana masker dengan berbagai macam dan corak, ada juga manusia yang guung tikar karena terlanjur memproduksi masker dalam jumlah banyak ternyata belakangan masker jenis tertentu tidak dianjurkan bahkan dilarang untuk digunakan, ada juga manusia yang memanfaatkan moment pandemic dengan cara berlomba membuat kebaikan dengan membagikan masker bahkan makanan, namun ada juga manusia yang bahkan menjadikannya bahan lelucon dengan mengirimkan sampah kepada orang lain, ada juga manusia yang melaksanakan kegiatan sosia dengan berbagai cara, tidak kalah menarik ada juga yang dengan santainya memanfaatkan dana sosia dari pemerintah untuk kepentingan pribadi, bahkan sampai ketingkat pusat penanggung jawab penanggulangan sosia yaitu menteri sosial pun turut mewarnai catatan di 2020 bahkan pandemic juga menyasar sector lain seperti kelautan sehingga menyeret menterinya dalam pusaran korupsi, masih terngiang dalam ingatan kita bahawa pemerintah memberikan bantuan pulsa untuk masyarakat dengan dana yang cukup besar namun pulsa yang dibagikan digunakan untuk membeli pulsa bukan beras dan pemilik BUMN penyedia layanan internet adalah milik pemerintah jadi uang dari pemerintah ujungnya kemana?, ada juga manusia yang saat pandemic seperti sekarang namun tetap memegang teguh asas demokrasi dengan melaksanakan pilkada serentak, mungkin Indonesia adalah satu dari sekian kecil Negara yang berani melaksanakan Pilkada, jika beberapa saat lalu ada istilah parpol adalah rental kendaraan untuk menuju kemenangan dalam mencapai suara menuju ke kursi kepala daerah atau menjadi dewan, ijinkan saat ini penulis menyampaikan bahwa Sosial media adalah kendaraan angkot yang bisa menaikan penumpang dimana saja siapa saja dan berhenti tidak harus di terminal, bias dikatakan bahwa seseorang yang tidak mempunyai latar belakang dunia politik dengan beberapa tampilan yang dibuat viral di sosial media dan menjadi sohor maka dengan mudah menjadi seorang anggota dewan atau kelapa daerah, jadi apakah masih harus sekolah politik untuk jadi ahli politik, apakah harus kuliah komunikasi untuk membuat script yang baik sehingga kata kata anda di Sosial media diterima, ironinya orang yang ngomong dari kasar bahkan kotor bias viral teori apa yang digunakan, teori mana yang dipakai.

Zaman sekarang gak perlu kelapangan bola untuk bermain bola, gunakan jempolmu saja, saat ini jika lapar kita gak perlu kemana mana gunakan jempolmu saja, saat ini jika kita ingin pakain mahal tidak perlu ke mall gunakan jempolmu saja, jadi pantaslah jika peribahasa mulumu harimaumu di rubah menjadi jempolmu serigalamu. Pandemic yang terjadi memaksa kita selalu mengunakan media bahkan anak sekolahpun masih menggunakan daring, dan saat inipun masih menjadi perdebatan mengenai kapan akan dimulainya pelajaran tatap muka, karena sehebat apapun guru atau dosen bagi yang kurang terbiasa mengajar secara daring hasil tidak akan maksimal.

Terakhir tentunya kita semua menyaksikan bahwa adanya penghinaan terhadap lagu kebangsaan kita oleh netizen Negara tetangga, kita tunggu saja apakah aka nada tindakan yang signifikan, atau kita semua sudah tidak peduli lagi dengan sakralnya lagu kebangsaan yang merupakan ciri identitas nasional. Lakukan dengan baik kerjakan dengan benar ingat jangan sampai berkerumun nanti berbahaya, walau ini demi harga diri dan kehormatan bangsa. Mari kita berkerumun lewat sosial media saja, angkot kan bias menarik penumpang dimana saja, ayo tapi jangan lupa isinya 50 % ya dan pake masker serta cuci tangan, salam sehat.

Bagikan Postingan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *