PESAN ENJOY (PENJOY) UST. DEDEN NUGRAHA (UDE) : UJIAN ITU BERNAMA PHK

Sebuah pesan masuk melalui whatsApp penulis

“ustadz mohon doanya suami saya di PHK, semoga kami diberikan kesabaran dalam menjalani ujian ini”

Tak berselang lama teman baik saya pun menyampaikan kabar mengenai pemutusan hubungan kerja nya di salah satu perusahaan ternama di kota Bandung.

Dua pesan tersebut hanyalah sedikit dari banyaknya saudara saudara kita yang terkena phk akibat dampak dari adanya pandemi covid 19 ini.

Kita sebagai seorang Muslim menyadari betul bahwa yang namanya Manusia pasti akan mengalami ujian

Allah swt sebutkan dalam Al-Quran

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi?”

“Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”

(Q.S Al-‘Ankabut [29] : 2 – 3)

Maksudnya, Sesungguhnya Allah Yang Mahasuci lagi Maha tinggi pasti akan menguji hamba-hamba-Nya yang beriman selaras dengan keimanan mereka. Dalam sebuah hadits shahih ditegaskan

“Manusia yang paling berat cobaannya ialah para Nabi, kemudian orang-orang shaleh kemudian manusia di bawahnya, lalu yang di bawahnya lagi. Seseorang menerima cobaan selaras dengan agamanya. Jika agamanya kuat, maka ditambahlah cobaan untuknya.”

Ayat tersebut seperti firman Allah ta’ala

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.”

Q.S Ali ‘Imran [3] : 142

Karena itu, di dalam surah ini Allah berfirman “Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” Yakni, orang orang yang membuktikan pengakuan keimanannya dan orang yang berdusta dalam perkataan dan pengakuannya. Allah ta’ala mengetahui apa yang sudah dan akan terjadi serta apa yang tidak akan terjadi jika sesuatu terjadi. Pernyataan ini telah disepakati kebenarannya oleh para Imam Ahlus Sunnah wal Jamaah (Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir jilid 3 Halaman 714-715)

Ujian phk tentu termasuk didalamnya, apakah dengan ujian tersebut kita semakin kuat, baik, tinggi Imannya, semakin membenarkan Allah swt dengan ikhlas beribadah kepadanya, semakin sadar bahwa ujian kepahitan yang dialami adalah bagian dari ketetapan Allah swt atau sebaliknya saat kita diberikan ujian justru semakin mendustakan Allah swt, jauh dari Nya, bermaksiat kepada-Nya? Naudzubillahi Min Dzalik

Sikap yang harus kita miliki adalah sikap yang pertama makin diuji, makin membenarkan Allah, makin mencintai-Nya serta makin menyadari akan kelemahan diri kita sebagai Makhluq Allah swt.

Pembaca Baraya yang Allah muliakan

Allah swt ingatkan kita mengenai ujian musibah di dalam Al-Quran

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

(Q.S At-Taghabun [64] : 11)

Allah swt memberitahukan, “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah.” Yaitu dengan perintah, ketentuan dan kehendak-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Hadid

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Q.S Al-Hadid [57] : 22)

Kemudian Allah swt berfirman “Dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” Yaitu, barangsiapa yang ditimpa musibah, kemudian dia menyadari bahwa itu terjadi dengan qadha dari Allah dan qadar-Nya, lalu dia bersabar dan mengharapkan balasan pahala dari kesabarannya itu, dan dia menerima keputusan yang telah ditentukan oleh Allah terhadap dirinya itu, maka Allah akan memberikan hidayah ke dalam hatinya dan akan menggantinya sesuatu yang luput darinya di dunia dengan petunjuk dan keyakinan yang teguh dalam hatinya. Kadang-kadang Allah mengganti apa yang telah diambil-Nya atau bahkan diganti dengan yang lebih baik. Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits shahih

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)
(Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir jilid 4 halaman 723)

Berbicara mengenai ujian tentu tidak hanya pada satu sisi saja yakni kesulitan, ketakutan, kekurangan harta, kehilangan orang yang disayangi, phk dan lain lain yang sifatnya kepahitan akan tetapi saat kita diberikan kenikmatan, sehat, dimudahkan rizki, pasangan serta keturunan shaleh/shalehah dan lain lain yang sifatnya kebaikan itupun merupakan ujian.

Allah swt sebutkan dalam Al-Quran

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan”.
(Q.S Al-Anbiya’ [21] : 35)

Firman Allah ta’ala “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan.” Yakni kadang-kadang Kami akan mengujimu dengan berbagai musibah dan kadang-kadang dengan aneka kenikmatan, lalu kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur, siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa, siapa yang taat dan siapa yang durhaka. Firman Allah Ta’ala, “Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan”. Lalu kami membalasmu sesuai dengan perbuatanmu. (Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir jilid 3 halaman 296-297)

Kesimpulan dari pemaparan tulisan diatas ialah Saat kita diuji dengan Kebaikan, kenikmatan jangan Lupa diri. Saat kita diberikan kepahitan, kesulitan, phk termasuk didalamnya jangan frustasi tetaplah optimis, sabar dalam menjalaninya.

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,”

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Q.S Asy-Syarh [94] : 5-6

Wallahu A’lam Bish Shawwab

Penulis
Deden Nugraha
Instagram @ustadzdedennugraha
Facebook Deden Nugraha
Youtube Ude Channel

Bagikan Postingan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fifteen − 1 =