KUALITAS PELAJAR DI MASA PANDEMI COVID-19 TURUN DRASTIS? BAGAIMANA PENDAPAT ORANGTUA SISWA?

Oleh : Endriyas Meidiawaty

Bandung, Barayakita  — Baraya, Apa yang terlintas di pikiran Anda mengenai kualitas pendidikan Putra-putri Anda yang masih menuntut ilmu, baik tingkat PAUD, TK, SD, SMP, SMA/SMK, ataupun yang masih kuliah di Perguruan Tinggi di masa Pandemi Covid-19 ini ? Penulis ingatkan, anak-anak kita mulai belajar di rumah sejak merebaknya virus Corona di Negara kita, yaitu 16 Maret 2020.

Perlu kita ketahui, 4 (empat) menteri, yaitu dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Agama (Kemenag), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), mengumumkan Surat Keputusan Bersama terkait Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) secara virtual melalui webinar, Senin (15/06).

Panduan tersebut dibuat dari hasil kerjasama dan sinergi antar kementerian dengan maksud tujuan untuk mempersiapkan satuan pendidikan saat menjalani masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menyatakan, hal mendasar diterbitkannya kebijakan pendidikan di masa pandemi Covid-19 ini adalah dengan memprioritaskan kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat.

Ia menegaskan jika tahun ajaran baru tidak mengalami perubahan. Artinya kalender pendidikan tahun 2020/2021 tidak mengalami perubahan. Hanya saja, jadwal pembelajaran tatap muka di kelas dikoreksi total. Sekolah yang berada di zona kuning, oranye, dan merah, dilarang melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan. “Satuan pendidikan pada zona-zona tersebut tetap melanjutkan Belajar dari Rumah,” terang Mendikbud Nadiem Anwar Makarim, pada webinar tersebut.

Berdasarkan hal itulah untuk Baraya yang tempat tinggalnya bukan di zona hijau, maka harus menahan keinginan agar putra-putrinya dapat kembali sekolah bertatap muka langsung dengan guru dan teman-teman sekolahnya. Ternyata hal ini juga disambut pro kontra para orang tua siswa. Di satu sisi para orangtua paham dengan kondisi yang terjadi saat ini dan setuju dengan sistem yang dilakukan saat ini, mengingat kesehatan putra-putrinya yang utama dan mencoba mengikuti kegiatan belajar mengajar secara daring (dalam jaringan) atau secara online. Namun hal ini juga ternyata mengundang keresahan para orangtua yang merasa pembelajaran putra-putrinya tidak bisa optimal dibandingkan pembelajaran secara langsung bertatap muka.

Penulis mencoba mengumpulkan opini dari para orangtua siswa berkaitan dengan kekhawatiran para orangtua yang merasa kualitas anak-anaknya sangat menurun drastis walau upaya telah cukup intens dilakukan untuk kemajuan anak-anaknya.

Diantara pendapat para orangtua siswa yang berhasil penulis himpun, ada Ibu Rita yang beralamat di Kecamatan Cimenyan Bandung, orangtua dari Kenzie, yang masih duduk di kelas 1, di salah satu SD swasta Kota Bandung.

Kenzie, Kelas 1 SD (Foto koleksi pribadi)

Rita mengatakan : “Kualitas secara akademik memang sepertinya mengalami penurunan, terutama untuk jenjang SD dan SMP, berbeda halnya dengan tingkat SMA karena usia SMA lebih bisa mandiri dalam hal belajar, atau mungkin tetap termotivasi demi menjaga prestise dan prestasi di lingkungan keluarga atau pergaulannya.”

“Penurunan kualitas mungkin tidak akan terjadi jika saja pemerintah bisa mengantisipasi berbagai kendala pelaksanaan pembelajaran jarak jauh, misal perbaikan infrakstruktur jaringan internet, bebas kuota untuk pembelajaran, pengadaan hp untuk siswa tidak mampu, penyesuaian kurikulum, peningkatan kualitas guru dan yang tidak kalah penting meningkatkan kepedulian dan dukungan orang tua terhadap pembelajaran jarak jauh. Terakhir, kalau boleh saya usul tidak usah ada pembelajaran lewat TVRI, lebih baik menggandeng pihak swasta karena lebih inovatif dan menarik dalam metoda atau penyampaian materi dan perlu diingat bahwa TVRI tidak bisa dijangkau dengan jelas di daerah pegunungan atau terpencil kecuali dengan penambahan perangkat komunikasi lainnya.” Ujar Rita dengan gamblang.

 

Sementara itu ada Ibu Tantri yang beralamat di Riung Arum Timur, Riung Bandung, yang memiliki anak semata wayang yang masih duduk di kelas 1 SD Martsa Aurelia, ia berpendapat : “Kualitas siswa tentunya akan sangat turun drastis karena ketidakteraturan dalam belajar karena tidak adanya jadwal pada saat pemberian tugas dari sekolah dan keterbatasan guru dalam tatap muka dengan murid pastinya tidak akan bisa optimal.”

Ibu Tantri dan putrinya, Martsa Aurelia kelas 1 SD (Foto koleksi pribadi)

 

Tidak jauh berbeda dengan orangtua berikut ini, Ny.Hilda, Ibunda dari Andy, siswa di salah satu SDIT di Katapang, Kabupaten Bandung, yang menegaskan bahwa Ia menyesalkan jika dari pihak sekolah tidak bias memberikan materi pembelajaran yang tepat untuk anak-anak. Ny.Hilda berkata : “ Minimal dengan aplikasi Zoom harusnya ada penjelasan materi pelajaran ke anak-anak minimal dalam sehari ada 1 (satu) atau 2 (dua) jam pengajaran.”

Ny. Hilda menegaskan : “Seharusnya guru bisa lebih kreatif agar anak gak boring dan tetap semangat belajar. Kalau hanya ngasih soal latihan gak efektif jika tanpa ada penjelasan atau pembahasan soal. Makanya anak-anak jadi nyantai, merasa biar aja pasti dapet nilai walau mengerjakan dengan asal. Mungkin pelajaran yang lebih ke arah life skill sebih sesuai untuk anak-anak belajar di rumah. Entah gardening project, Kitchen Project, itu kan bias mencakup pelajaran IPA. Sementara Social Project tepat untuk penerapan pelajaran PPKN. Intinya, menurunnya kualitas anak karena metode pendidikan dari pihak sekolah tidak pas.”

Hilda bahkan menambahkan : “Sementara SPP tidak dikurangi, padahal selama 3 (tiga) bulan pertemuan lewat “Zoom” Cuma 2 (dua) kali, sisanya cuma latihan soal tanpa pembahasan, hanya dikasih tahu kesalahannya saja.”

Pendapat dari beberapa orantua siswa di atas mungkin mewakili pendapat banyak orangtua lainnya. Mengutip perkataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim, bahwa kualitas pembelajaran secara daring karena pandemi virus Corona jenis baru atau Covid-19 ditentukan oleh kualitas guru. Dia menambahkan kualitas pembelajaran daring tersebut juga ditentukan seberapa besar minat guru belajar dan memastikan anak didiknya belajar.

Dilansir dari Antara, Nadiem juga menjelaskan pembelajaran daring di banyak daerah yang awalnya belajar di rumah, tetapi pada kenyataannya tidak belajar di rumah. Hal itu, kata dia, harus dihadapi dengan transparan. Oleh karena itu, Kemendikbud melakukan sejumlah upaya. Dimulai dari pembelajaran daring berbasis televisi dan radio serta pembelajaran daring dengan menggandeng sejumlah platform pembelajaran.

Nadiem mengatakan saat ini memang ada pengorbanan yang dilakukan karena tidak bisa menyelenggarakan pembelajaran secara optimal. Namun, pengorbanan tersebut. lanjut dia tidak akan sia-sia karena akan bermanfaat bagi proses pembelajaran ke depannya.

Baraya, Kehadiran COVID-19 ini sedikit banyak menunjukkan ketidaksiapan sistem pendidikan di Indonesia baik di tingkat sekolah maupun universitas dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran daring. Padahal, dengan dukungan infrastruktur digital yang baik, pembelajaran daring dapat mendistribusikan materi pembelajaran yang berkualitas kepada siswa dari berbagai daerah di Indonesia.

Semoga saja hal ini dapat menjadi dasar untuk berbagai pihak di bidang pendidikan untuk mengambil hikmah dari adanya Covid-19 dan ada perbaikan yang diharapkan masyarakat agar kualitas pelajar dapat tetap terjaga, menjadi pelajar berkualitas dan unggul di zaman now.

 

*Penulis adalah, Penyiar & Reporter www.barayakita.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sixteen − five =